Fase Kesadaran Masyarakat Desa; magis, naif, kritis
Fase Kesadaran Masyarakat Desa; magis, naif, kritis

Fase Kesadaran Masyarakat Desa; magis, naif, kritis

Sedesa.id Fase Kesadaran Masyarakat Desa; magis, naif, kritis. Kesadaran merupakan elemen penting yang harus dimiliki oleh manusia dalam menjalankan kehidupan di muka bumi. Sebagai makhluk hidup yang berakal, manusia memiliki unsur kesadaran dalam dirinya. Selain itu, sebagai makhluk sosial, kesadaran manusia diperlukan untuk diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Manusia yang masuk dalam lingkungan komunitas (masyarakat) akan bersinggungan langsung dengan beragam persoalan dan permasalahan sosial di sekitarnya, sehingga diperlukan kesadaran tinggi untuk menyelesaikan problem yang ada. Seperti halnya yang terjadi di lingkungan masyarakat perdesaan.

Berbicara tentang kesadaran, sebenarnya ada beberapa faktor yang mendukung pembentukan pola kesadaran dari masyarakat. Pada realitanya, yang dominan membentuk kesadaran masyarakat adalah paradigma pendidikan formal yang ada di lingkungan masyarakat.

Tentu dalam proses pembentukan kesadaran, terdapat beberapa fase kesadaran yang dilalui oleh masyarakat desa. Mengutip dari paradigma kesadaran yang diutarakan oleh Paulo Freire, seorang tokoh pendidikan Brasil dan teoritikus pendidikan yang berpengaruh di dunia, Freire membagi kesadaran menjadi 3 jenis, yaitu kesadaran magis, naif, dan kritis.

Freire menjelaskan, fase kesadaran ini berangkat dari masyarakat yang awalnya berpikir magis, lalu naik level ke naif, dan akhirnya menjadi kritis (tingkatan tertinggi dari proses kesadaran masyarakat). Ketiga kesadaran itu dipengaruhi oleh pendidikan yang diterima oleh masyarakat. Jika pendidikan saat ini masih berorientasi pada pendidikan gaya bank yang mana murid (masyarakat) hanya menjadi celengan dari guru yang berperan sebagai penabung, maka masyarakat akan kesulitan untuk melahirkan kesadaran kritis.

Pendidikan gaya bank hanya akan membuat masyarakat di masa depan layaknya robot-robot yang tidak paham akan realitas sosial yang sedang dihadapinya. Oleh karena itu, masyarakat harus memiliki kesadaran kritis dalam dirinya. Adapun beberapa penjelasan tentang fase kesadaran masyarakat desa berdasarkan pemikiran Paulo Freire.

Pertama, kesadaran magis (magic consciousness)

Fase Kesadaran Masyarakat Desa yang pertama adalah Kesadaran magis adalah kesadaran yang mana dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat lebih percaya pada kekuatan takdir dan intervensi Tuhan terhadap apa yang dialaminya. Kesadaran magis menggambarkan keadaan masyarakat yang tidak mampu melihat adanya kaitan antar satu faktor dengan faktor lainnya.

Kesadaran magis lahir dari paradigma konservatif. Paradigma ini menjelaskan, masyarakat yang memiliki kesadaran magis mempunyai pandangan bahwa ketidaksederajatan masyarakat lahir dari sebuah proses yang alami yang mustahil dihindari karena sudah merupakan takdir Tuhan.

Menurut masyarakat desa yang memiliki kesadaran magis, perubahan sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat desa tidak perlu diperjuangkan. Masyarakat dengan kesadaran magis beranggapan bahwa perubahan yang terjadi di desa merupakan rencana dan kehendak Tuhan, jadi mereka tidak perlu mengintervensi hal tersebut.

Salah satu contoh nyata kesadaran magis masyarakat desa adalah dalam menyikapi kemiskinan. Fenomena kemiskinan di desa menjadi permasalahan sosial yang terus berlanjut sampai saat ini. Kemiskinan jelas terpampang nyata dan selalu masuk dalam pemberitaan nasional. Pada umumnya, kemiskinan ini terjadi karena faktor kesenjangan sosial dan tingkat pengangguran yang tinggi di desa. Namun, kemiskinan yang terjadi di desa tidak hanya disebabkan oleh kedua faktor tersebut.

Perlu diketahui, ada beberapa masyarakat yang merasa dirinya tidak berada di zona miskin, padahal jika dilihat dari segi pendapatan, mereka tergolong dalam masyarakat miskin karena memiliki pendapatan rendah (sudah memenuhi indikator kemiskinan).

Tidak dapat dipungkiri, masyarakat miskin yang memiliki kesadaran magis, mereka hanya bisa pasrah dengan keadaan dan mengatakan bahwa situasi yang mereka alami saat ini merupakan suratan takdir dari Tuhan. Tentu kesadaran magis ini menjadi benalu bagi masyarakat desa untuk bisa keluar dari jurang kemiskinan. Bukankah dalam firman-Nya, Tuhan mengatakan, Dia tidak akan mengubah suatu kaum sampai kaum itu mengubah dirinya sendiri?

Kedua, kesadaran naif (naival consciousness)

Fase Kesadaran Masyarakat Desa yang kedua adalah Kesadaran naif ini sudah naik satu level dari kesadaran magis. Kesadaran naif adalah kesadaran yang mana masyarakat meyakini bahwa suatu peristiwa yang terjadi dalam hidupnya disebabkan oleh diri mereka sendiri. Jadi, dalam hal ini, masyarakat menempatkan manusia sebagai akar penyebab masalah.

Kesadaran naif lahir dari paradigma pendidikan liberal. Kesadaran naif menjelaskan, masyarakat yang memiliki kesadaran ini sudah bisa memahami adanya permasalahan sosial yang terjadi di lingkungannya, namun belum sepenuhnya bisa memberikan solusi.

Jika ada permasalahan sosial, masyarakat dengan kesadaran naif lebih memilih untuk memperbaiki diri mereka sendiri ketimbang sistem. Ibarat kata mereka mengetahui dirinya tertindas, tapi mereka mencoba untuk abai. Hal ini bisa dilihat pada masyarakat desa yang menjalani hidupnya dalam keadaan miskin. Dalam situasi tersebut, masyarakat dengan kesadaran naif memiliki keinginan untuk mengubah nasibnya. Mereka memiliki keinginan untuk menjadi orang kaya. Namun terkadang mereka belum tahu bagaimana caranya menjadi kaya.

Kasus lain misalnya, di tengah-tengah lahirnya Undang-undang Desa Nomor 6 Tahun 2014 dan Peraturan Menteri Desa Nomor 4 Tahun 2015, masyarakat desa yang memiliki kesadaran naif, mereka sadar akan pentingnya membangun desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Tapi, tidak sedikit dari mereka yang masih ragu untuk ikut andil dalam pembentukan BUMDes.

Masyarakat dengan kesadaran naif ini masih kebingungan untuk turut serta beraksi dalam mewujudkan BUMDes di desanya. Sama halnya ketika mereka merasa ada sesuatu yang salah dengan desanya, seperti adanya kebijakan yang menyimpang dan sejenisnya, masyarakat desa dengan kesadaran naif masih belum berani untuk mengeluarkan aspirasi, kritik dan saran mereka kepada pemangku desa.

Dengan demikian, pendidikan dalam perspektif liberal yang melahirkan kesadaran naif ini harus bisa menjadi sarana untuk mereproduksi nilai-nilai tata susila keyakinan dan nilai-nilai dasar agar stabil serta berfungsi dengan optimal di masyarakat. Harapannya, masyarakat desa bisa mempelajari nilai-nilai yang ada di lingkungannya, sehingga dapat meningkatkan paradigma kesadarannya naik level, dari naif menjadi kritis.

Ketiga, kesadaran kritis (critical consciousness)

Fase Kesadaran Masyarakat Desa yang ketiga adalah Kesadaran kritis adalah kesadaran yang mana masyarakat melihat sistem sebagai sumber masalah. Kesadaran kritis lahir dari paradigma pendidikan kritis yang biasanya berorientasi pada unsur politik. Dalam perspektif kritis, pendidikan harus mampu membuka wawasan dan cakrawala berpikir guru dan murid, serta dapat menciptakan ruang bagi murid untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara bebas serta kritis tentang transformasi sosial. Seperti halnya dalam menindaklanjuti perihal Undang-undang Desa Nomor 6 Tahun 2014 dan Peraturan Menteri Desa Nomor 4 Tahun 2015.

Lahirnya Undang-undang Desa yang juga melahirkan dana desa serta kebijakan terkait pendirian BUMDes di tiap desa, tentu disambut hangat para pemangku desa. Tak ketinggalan, masyarakat desa juga turut antusias dan penasaran terhadap dana desa dan BUMDes. Meskipun begitu, tidak sedikit masyarakat desa yang masih merasa awam dengan kegunaan dana desa dan fungsi dari pendirian BUMDes itu sendiri.

Tujuan adanya dana desa berdasarkan amanat Undang-undang Desa Nomor 6 Tahun 2014 adalah untuk membantu mengatasi permasalahan ekonomi di desa, menunjang program pemberdayaan masyarakat desa melalui BUMDes, meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) di desa, membangun infrastruktur dan fasilitas publik di desa, serta menyukseskan pelaksanaan program prioritas pembangunan desa dari tingkat pemerintah pusat, daerah, kecamatan, dan desa itu sendiri.

Sering menjadi permasalahan di desa terkait kebijakan Undang-undang Desa ini adalah ketika para pemangku desa tidak memahami betul poin-poin yang diamanatkan dalam Undang-undang Desa. Ketika dana desa yang diamanatkan dalam Undang-undang Desa seharusnya digunakan untuk kepentingan masyarakat desa dalam hal produktif, justru pada praktiknya, tidak sedikit para oknum pemangku desa yang menggunakan dana desa ini untuk hal-hal yang sifatnya konsumtif, Tak dapat dihindari, pro dan kontra penggunaan dana desa sering dijumpai di desa-desa.

Masyarakat desa yang paham betul akan esensi dan substansi dari Undang-undang Desa Nomor 6 Tahun 2014, akan menggugat pemangku desa yang menggunakan dana desa di luar dari yang diamanatkan dalam Undang-undang.

Tentu perilaku masyarakat desa tersebut menunjukkan bahwa mereka adalah pribadi yang sudah memiliki kesadaran kritis. Pemahaman tinggi masyarakat akan isi dari Undang-undang Desa Nomor 6 Tahun 2014 membuat masyarakat desa paham betul apa kegunaan dari dana desa.

Kesadaran kritis yang dimiliki masyarakat desa mendorong mereka untuk tidak berdiam diri ketika ada kebijakan menyimpang terjadi di desanya. Kesadaran kritis inilah yang menjadi puncak masyarakat desa memiliki pemikiran kritis dan mendorongnya untuk selalu melek kebijakan di desa.

Dengan demikian, melalui media pembelajaran yang baik, masyarakat desa akan melahirkan kesadaran kritis dalam dirinya. Tentu pembelajaran yang baik diterapkan pada masyarakat desa adalah bukan dengan menjadikan mereka sebagai celengan, tapi justru menjadikan masyarakat desa sebagai subjek dalam pemecahan masalah. Hal ini menjadi PR bagi para fasilitator ataupun pendamping desa untuk memberikan edukasi kepada masyarakat dengan sistem diskusi, bukan sistem ceramah saja.

Harapannya, dengan sistem diskusi ini masyarakat desa bisa belajar untuk memahami kebijakan dan permasalahan sosial yang ada di desa dan bisa berpikir kritis untuk turut serta memecahkan masalah yang terjadi.

Demikian pembahasan kali ini mengenai Fase Kesadaran Masyarakat Desa yang mana secara garis besar ada tiga fase Kesadaran Masyarakat Desa; magis, naif, kritis. Menurut sahabat sedesa, saat ini di desa sahabat telah memasuki fase kesadaran yang mana? Apakah sudah memasuki fase kesadaran kritis, baru sampai pada kesadaran naif, atau masih dalam fase kesadaran magis? Semoga dengan membaca artikel ini sahabat mendapat tambahan informasi dan pengetahuan. Semoga bermanfaat. Salam. Ayu Sedesa.id

Artikel Menarik
Undang Undang Desa
6 Tahun Undang Undang Desa Apa Kabar Desa Anda?