• Call: +6285643190105
  • E-mail: sapasedesa@gmail.com
  • Login
  • Register
Education Blog
  • Panduan Praktis
    • Koperasi
    • Materi dan Publikasi
    • BUMDes
    • Peluang Usaha
  • Tentang Ryan
  • Catatan Penulis
  • Digital Marketing
  • Nalara Kopi
  • Kabar & Agenda
    • Sedesa TV
  • Pelatihan & Konsultasi
    • Pelatihan Wisata Berkelanjutan
    • Pelatihan Pasar Rakyat
No Result
View All Result
sedesa.id
No Result
View All Result
Home Catatan Penulis

Belajar dari Krisis Melihat Masa Depan Pertanian

Ryan Ariyanto by Ryan Ariyanto
Agustus 28, 2020
in Catatan Penulis, Desa
0
Belajar dari Krisis Melihat Masa Depan Pertanian
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on TekegranShare on Tekegran

Sedesa.id Melihat Masa Depan Pertanian. Belakangan seruan untuk memenuhi kebutuhan pangan melalui gerakan berkebun atau memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam beragam sayuran mulai terdengar kembali. Seruan ini tentu saja tidak lepas dari  kondisi kita saat ini. Kondisi krisis memang mewajibkan kita untuk mampu beradaptasi. Salah satu adaptasi yang dilakukan adalah dengan memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri.

Saya pernah membahas mengenai bagaimana kebutuhan pangan nasional ini bisa dipenuhi bahkan dari gerakan lumbung pangan keluarga. Tentu dengan melibatkan ‘desa’ sebagai pemain utama. Indonesia, sampai saat ini memang belum bisa ‘mandiri pangan’ kita masih banyak impor untuk berbagai kebutuhan pangan, terakhir kita tahu Indonesia mulai dibanjiri produk sayur dari Tiongkok.

RelatedPosts

Praktisi sedesa.id Dampingi Warga Muting Merauke Bangun Kelembagaan Ekonomi Kawasan

Memperkuat Kelembagaan Ekonomi Kawasan: Tim 16 TEP UGM & Warga Petakan Aset Produktif di Muting

Kuliner 24 Jam di Yogyakarta Rekomendasi Tempat Makan Malam di Jogja

Ironi memang ketika negeri yang gemah ripah loh jinawi ini belum bisa swasembada pangan. Ironi ketika kita ketahui betapa suburnya tanah yang menjadi tempat tinggal kita ini. Tapi kenyataannya memang demikian, dalam skala besar kita masih belum menaruh kata serius untuk membenahi urusan pangan, urusan pertanian kita.

Petani kita pun kian terpinggirkan, lahan untuk pertanian misalnya kita bisa lihat sudah banyak yang beralih fungsi. Di Pulau Jawa kita bisa melihat berbagai peralihan fungsi lahan, ada yang jadi pabrik, perumahan, bandara, kena jalan tol dan lain sebagainya.

Pertanian semakin terpinggirkan di Pulau Jawa. Di luar pulau Jawa?  Nasibnya tidak jauh beda, petani harus berebut lahan dengan perusahaan perkebunan atau perusahaan tambang. Ya, yang demikian memang terjadi.

Upaya pemerintah tentu ada, kita banyak melihat program pembukaan lahan baru untuk pertanian, upaya membuka sawah di Kalimantan, di Papua, di Sumatera dan berbagai tempat. Namun, kita belum melihat hasil.

Belajar Dari Krisis Melihat Masa Depan Pertanian

Melihat Masa Depan Pertanian, kita dapat belajar dari krisis yang terjadi, bagaimana kita bersama menyadari yang dibutuhkan manusia adalah pangan. Keberadaan pangan menjadi yang utama, untuk sehat kita membutuhkan pangan. Roda perekonomian di kota yang harus terhenti karena korona misalnya, menjadikan para perantau ramai-ramai pulang kampung. Desa lagi-lagi menjadi jalan pulang, kepada desa jua kehidupan disandarkan.

Jika kita memang memiliki kesadaran bersama perihal pentingnya pangan, maka masa krisis ini bisa kita jadikan sebagai momentum di dalam memulai kemandirian pangan. Saya cukup bahagia ketika sahabat dalam lingkaran saya membagikan cerita aktivitas mereka dalam situasi saat ini dengan memanfaatkan lahan pekarangan untuk berkebun. Juga mendapat update di grup WA Sedesa.id tentang teman-teman di berbagai daerah yang mulai menggeluti wilayah pertanian, walau dalam skala kecil.

Kita berbicara ketahanan pangan, bisa kita mulai dari ketahanan paling awal, ketahanan untuk diri kita sendiri. Untuk lingkungan kita, dari skala RT, RW kemudian Desa. Jika Desa sudah mandiri pangan, warganya memiliki kebun sendiri-sendiri, dapat memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri, kita bisa melakukan gerakan besar di tingkat daerah bahkan nasional.

Ingat, dalam masa krisis yang dibutuhkan bukan lagi sepatu baru, baju baru, tapi pangan. Baik mereka yang di desa, di kota semua memiliki kesempatan yang sama. Di kota kita telah melihat bagaimana kegiatan memanfaatkan lahan sempit yang ada untuk bercocok tanam. Urban farming, telah banyak teman-teman yang menjalankan  urban farming di kota-kota besar. Kegiatan yang tidak hanya bisa memenuhi pangan mereka, namun berdampak pada pendapatan ekonomi karena melimpahnya hasil panen.

Masa Depan Pertanian Adalah Kehidupan

Walau cerita tentang profesi petani yang kian terpinggirkan masih saja terjadi, diskriminasi akan penggunaan lahan masih menghantui, namun masa depan pertanian kita dapat lihat sebagai masa depan kehidupan.

Urusan pangan, kebutuhan akan makanan tidak dapat digantikan oleh benda selain bahan pangan. Manusia membutuhkan asupan makanan untuk tetap hidup. Semua manusia ingin hidup tapi tidak semua manusia mau menanam.

Kita dapat memanfaatkan upaya menanam di pekarangan sebagai gerakan bersama, gerakan yang serius. Jika dalam satu RT semua menanam, dengan beragam sayur dan buah, maka satu RT dapat saling memenuhi kebutuhan buah dan sayur. Jika berlebih? Dapat menjualnya ke pasar sehingga ada nilai ekonomi dari kegiatan menanam di halaman.

Urusan pangan adalah urusan kehidupan. Masa depan pertanian adalah kehidupan itu sendiri. Ketika jumlah manusia kian banyak, sumber daya alam kian rusak, maka mempertahankan apa yang kita miliki untuk menanam adalah pilihan yang bijak.

Memenuhi pangan untuk diri sendiri, menjadikan adanya lumbung pangan keluarga, terciptanya lingkungan yang swasembada, tentu bukan ucapan yang utopia, ini bisa kita kerjakan bersama. Kita percaya pada program pemerintah, namun jangan hanya menunggu titah, mari bersama kita mulakan gerakan menanam.

Kesimpulan

Situasi krisis tahun 2020 ini belum bisa kita prediksi kapan akan berakhir, krisis kesehatan yang berdampak pada banyak sektor seperti ekonomi dan juga pangan. Apa yang bisa kita lakukan, mari mulai menanam, Belajar dari Krisis Melihat Masa Depan Pertanian.

Desa memiliki potensi luar biasa untuk mengembangkan sektor pertanian, sebagai lumbung ketahanan pangan nasional. Tidak ada kata terlambat, dan tidak ada kata harus selalu menunggu, kita bisa bergerak dari kesadaran bersama, dan menjadikan kondisi saat ini sebagai momen kebangkitan dan kesadaran akan pentingnya pertanian sebagai penyedia pangan yang menjamin keberlangsungan kehidupan.

Demikian catatan penulis dalam kesempatan kali ini, saya pun sedang memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam berbagai buah dan sayuran sebagai upaya memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Semoga bermanfaat. Salam. Ari Sedesa.id

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X

Terkait

Previous Post

10 Hal Penting Dalam Pendirian BUMDes

Next Post

Mengapa perusahaan melakukan diversifikasi produk? – Ngobrol Seputar Marketing

Ryan Ariyanto

Ryan Ariyanto

Ryan Ariyanto, S.E., M.M. adalah praktisi dan trainer di bidang pengembangan sumber daya manusia desa, ekonomi kerakyatan, dan pariwisata berbasis komunitas. Lulusan S1 Manajemen Sumber Daya Manusia dan S2 Magister Manajemen Pariwisata, dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam pendampingan BUMDes, desa wisata, koperasi, ekonomi kreatif, serta pelatihan digital marketing dan penguatan kelembagaan desa. Aktif sebagai peneliti di Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM dan pengelola platform edukasi sedesa.id.

Related Posts

Praktisi sedesa.id Dampingi Warga Muting Merauke Bangun Kelembagaan Ekonomi Kawasan
Berita Desa

Praktisi sedesa.id Dampingi Warga Muting Merauke Bangun Kelembagaan Ekonomi Kawasan

by Ryan Ariyanto
Oktober 9, 2026
0

Kawasan Transmigrasi Muting di Merauke, Papua Selatan, menyimpan kekayaan alam yang luar biasa. Namun, besarnya potensi ini belum berbanding lurus...

Read moreDetails
Sedesa.id Pengembangan Kelembagaan Ekonomi Lokal di Merauke
Berita Desa

Memperkuat Kelembagaan Ekonomi Kawasan: Tim 16 TEP UGM & Warga Petakan Aset Produktif di Muting

by Ryan Ariyanto
Oktober 9, 2026
0

Kawasan Transmigrasi Muting, Merauke, menyimpan potensi ekonomi lokal yang masif namun belum terintegrasi secara maksimal. Merespons kondisi tersebut, Tim Ekspedisi...

Read moreDetails
Kuliner 24 Jam di Yogyakarta Rekomendasi Tempat Makan Malam di Jogja
Catatan Penulis

Kuliner 24 Jam di Yogyakarta Rekomendasi Tempat Makan Malam di Jogja

by Ryan Ariyanto
Januari 11, 2026
0

Sedesa.id Yogyakarta tidak pernah benar-benar tidur. Banyak wisatawan yang bilang bahwa salah satu pesona terbaik kota ini justru muncul saat...

Read moreDetails

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Archive

Most commented

Praktisi sedesa.id Dampingi Warga Muting Merauke Bangun Kelembagaan Ekonomi Kawasan

Memperkuat Kelembagaan Ekonomi Kawasan: Tim 16 TEP UGM & Warga Petakan Aset Produktif di Muting

Cara Menyeduh Kopi Robusta Wonosobo agar Rasa Smooth dan Tidak Pahit

Strategi Promosi Digital untuk Desa Wisata Agar Ramai Pengunjung

5 Desa Wisata di Jawa Tengah yang Wajib Dikunjungi Akhir Pekan Ini

Panduan Merintis Desa Wisata dari Nol: Langkah, Modal, dan Contoh Sukses

  • About us
  • Terms of service
  • Privacy Policy
Call us: 085643190105

Sedesa.id © 2026

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Panduan Praktis
    • Koperasi
    • Materi dan Publikasi
    • BUMDes
    • Peluang Usaha
  • Tentang Ryan
  • Catatan Penulis
  • Digital Marketing
  • Nalara Kopi
  • Kabar & Agenda
    • Sedesa TV
  • Pelatihan & Konsultasi
    • Pelatihan Wisata Berkelanjutan
    • Pelatihan Pasar Rakyat

Sedesa.id © 2026

Eksplorasi konten lain dari sedesa.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca