• Call: +6285643190105
  • E-mail: sapasedesa@gmail.com
  • Login
  • Register
  • Desa
    • Koperasi
    • BUMDes
    • Peluang Usaha
    • Materi dan Publikasi
  • Digital Marketing
  • Nalara Kopi
  • Sedesa TV
  • Layanan
    • Pelatihan Wisata Berkelanjutan
    • Pelatihan Pasar Rakyat
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home PUSTAKA Catatan Penulis

Ki Hajar Dewantara dan Pendirian Taman Siswa: Konsep Pendidikan Merdeka Belajar yang Menjadi Arah Kebijakan Pendidikan Indonesia Saat Ini

Ryan Ariyanto by Ryan Ariyanto
Maret 9, 2024
in Catatan Penulis, Sekampus
0
Kuotes Ki Hajar Dewantara

Kuotes Ki Hajar Dewantara

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on TekegranShare on Tekegran

Membicarakan pendidikan tidak lepas dari sosok Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Indonesia, yang mana melalui pemikiran beliau tiang-tiang arah kebijakan pendidikan Indonesia bertumpu pada pondasi konsep pendidikan Taman Siswa yang beliau perjuangkan dan aplikasikan jauh sebelum Indonesia merdeka.

Di antara deretan pahlawan Indonesia, Ki Hajar Dewantara memiliki peran istimewa dalam mencerdaskan bangsa. Lahir sebagai Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, beliau tak hanya dikenal sebagai aktivis pergerakan kemerdekaan, tetapi juga pendiri Taman Siswa, sebuah lembaga pendidikan yang mendobrak sistem kolonial dan menumbuhkan kemerdekaan belajar bagi anak-anak Indonesia.

RelatedPosts

Kuliner 24 Jam di Yogyakarta Rekomendasi Tempat Makan Malam di Jogja

Bagaimana Menilai & Memilih Desa Wisata untuk Liburan

Perjalanan “Slow Travel” ke Desa Wisata: Panduan 2–3 Hari untuk Menyelami Ketenangan & Kehidupan Desa

Dedikasi Ki Hajar Dewantara bagi pendidikan tak perlu diragukan lagi. Semangatnya dalam memperjuangkan hak pendidikan bagi rakyat pribumi dan pemikirannya yang progresif tentang pendidikan, menjadikannya ikon penting dalam sejarah pendidikan Indonesia. Makalah ini akan mengupas lebih dalam tentang perjalanan hidup Ki Hajar Dewantara, pemikirannya tentang pendidikan, kiprahnya dalam mendirikan Taman Siswa, dan warisannya yang tak ternilai bagi bangsa Indonesia.

Saat ini saya bekerja sebagai bagian dari Pelaksana Pusat Kampus Merdeka untuk Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka, melalui artikel ini saya mencoba menjelaskan pemahaman saya dari berbagai referensi dan pengalaman yang saya miliki, mengenai sosok luar biasa Ki Hajar Dewantara dalam dunia pendidikan mulai dari Taman Siswa dan Merdeka Belajar yang saat ini menjadi arah kebijakan pendidikan nasional.

Sejarah Singkat Kehidupan Ki Hajar Dewantara

Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (1889-1959), yang kemudian dikenal sejak 1923 menjadi Ki Hadjar Dewantara, EYD: Ki Hajar Dewantara, lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889. Beliau merupakan cucu dari Sri Paku Alam III dan putra dari GPH Soerjaningrat, seorang bupati di Pakualaman. Ki Hajar Dewantara adalah seorang bangsawan Jawa, aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, guru bangsa, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia.

Ki Hajar Dewantara merupakan salah satu tokoh pergerakan nasional Indonesia yang memiliki peran penting dalam bidang pendidikan. Sejak kecil, Ki Hajar Dewantara sudah menunjukkan minat yang besar terhadap dunia pendidikan dan kebudayaan. Beliau dikenal sebagai pendiri Taman Siswa, sebuah organisasi pendidikan yang didirikan pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta.

Peninggalan pemikiran mengenai pendidikan dan warisan Taman Siswa sebagai konsep pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan bangsa Indonesia. Menjadikan Ki Hajar Dewantara menyandang gelar sebagai bapak pendidikan nasional. Di Indonesia, kita tahu peringatan Hari Pendidikan Nasional, setiap 2 Mei berdasar pada hari kelahiran dari sosok Ki Hajar Dewantara yang kita muliakan, sebagai bentuk mengingatkan kepada bangsa Indonesia arah dan pikiran-pikiran pendidikan yang sesuai dengan masyarakat dan karakter bangsa Indonesia.

Pemikiran Ki Hajar Dewantara dan Pendirian Taman Siswa

Ki Hajar Dewantara, yang lahir dalam lingkungan bangsawan Jawa memiliki keresahan yang besar dalam masalah pendidikan di Indonesia pada masa penjajahan. Hak terhadap pendidikan yang dibatasi oleh pemerintah kolonial Belanda, menjadi keresahan Ki Hajar Dewantara, sebagai kaum terdidik yang beruntung mendapatkan akses terhadap pendidikan di HBS Yogyakarta.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di HBS Yogyakarta, Ki Hajar bekerja sebagai jurnalis dan redaktur di beberapa surat kabar, seperti De Express, Utusan Hindia, dan Kaoem Moeda. Di surat kabar tersebut, Soewardi aktif menulis artikel-artikel yang kritis terhadap pemerintah Hindia Belanda.

Pada tahun 1913, Ki Hajar diasingkan ke Belanda karena tulisannya yang berjudul “Als ik eens Nederlander was” (“Seandainya Aku Seorang Belanda”). Di Belanda, Soewardi aktif dalam organisasi pergerakan nasional, seperti Perhimpunan Indonesia.

Ki Hajar Dewantara memiliki pemikiran yang progresif tentang pendidikan. Beliau percaya bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia. Beliau mengkritik sistem pendidikan kolonial Belanda yang tidak berpihak kepada rakyat Indonesia.

Sekembalinya dari pengasingan, Ki Hajar Dewantara mendedikasikan dirinya untuk dunia pendidikan. Beliau melihat bahwa sistem pendidikan kolonial Belanda tidak berpihak kepada rakyat Indonesia. Oleh karena itu, pada tahun 1922, Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem pendidikan kolonial Belanda. Taman Siswa bertujuan untuk:

  1. Memberikan pendidikan yang berpusat pada anak (Tut Wuri Handayani)
  2. Membangun karakter dan kemandirian bangsa Indonesia
  3. Melestarikan budaya dan bahasa Indonesia

Taman Siswa berkembang pesat dan menjadi salah satu organisasi pendidikan ternama di Indonesia. Pada masa penjajahan Jepang, Taman Siswa sempat ditutup, namun kembali aktif setelah kemerdekaan Indonesia. Setelah kemerdekaan Indonesia, Ki Hajar Dewantara aktif dalam merumuskan sistem pendidikan nasional. Beliau juga menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pertama Republik Indonesia.

Warisan Ki Hajar Dewantara Sampai Pada Saat Ini: Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka

Ki Hajar Dewantara wafat pada 26 April 1959. Beliau meninggalkan warisan yang luar biasa bagi dunia pendidikan Indonesia, di antaranya:

  1. Filosofi pendidikan Taman Siswa yang menekankan pada kodrat alam, kemerdekaan belajar, dan kebudayaan
  2. Semboyan Taman Siswa “Tut Wuri Handayani”, yang berarti “di belakang memberi dorongan dan di depan memberi contoh”
  3. Banyak sekolah Taman Siswa yang tersebar di seluruh Indonesia

Konsep pendidikan Taman Siswa berlandaskan pada filosofi “Tut Wuri Handayani”, yang berarti “di belakang memberi dorongan dan di depan memberi contoh”. Pendidikan Taman Siswa menekankan pada:

  1. Kodrat alam anak
  2. Kemerdekaan belajar
  3. Kebudayaan

Konsep pendidikan Taman Siswa menjadi role model dalam pendidikan Indonesia saat ini. Konsep Merdeka Belajar yang digaungkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim disambut dan diapresiasi oleh berbagai kalangan, karena sangat relevan dengan apa yang menjadi cita-cita dari Ki Hajar dalam pendidikan Taman Siswa.

Dalam konsep kemerdekaan belajar, termuat filosofi kemandirian, kata itu adalah kunci pada konsep Merdeka Belajar. Konsep Merdeka Belajar yang beranjak dari filosofi Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara. Konsep Merdeka Belajar, filosofinya, anchor-nya filosofi Ki Hajar Dewantara yaitu; Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani. Perasan dari filosofi ini yaitu untuk menciptakan kemerdekaan belajar murid-murid yang mandiri dan inklusif memberikan kesempatan untuk semua peserta didik.

Saya sendiri saat ini bekerja di Pelaksana Pusat Kampus Merdeka untuk program Pertukaran Mahasiswa Merdeka. Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka yang selanjutnya disebut Program PMM merupakan bagian dari Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Program PMM adalah program pertukaran mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi (PT) dalam koordinasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang berorientasi memberikan pengalaman kebinekaan melalui keikutsertaan dalam berbagai kegiatan Modul Nusantara untuk memberikan pengalaman belajar di PT Penerima, memupuk semangat persatuan dan nasionalisme Indonesia.

Program MBKM dalam hal ini Program PMM, secara mendalam memiliki tujuan yang dilatar belakangi pada konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara, yaitu:

  1. Membuka ruang jumpa Mahasiswa Program PMM dari PT Penerima dan PT Pengirim yang memiliki beragam latar belakang;
  2. Meningkatkan kemampuan Mahasiswa Program PMM dalam mengaplikasikan wawasan kebangsaan yang telah dimiliki;
  3. Meningkatkan pemahaman Mahasiswa Program PMM pada keberagaman suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) serta semangat persatuan nasionalisme Indonesia;
  4. Mengembangkan dialog dan perjumpaan rutin dalam keberagaman SARA dan semangat persatuan nasionalisme Indonesia pada Mahasiswa Program PMM sehingga tercipta rasa saling menghargai; dan
  5. Memperluas dan/atau memperdalam pengetahuan akademis Mahasiswa Program PMM.

Melihat bagaimana arah kebijakan dan program pendidikan yang sedang berlangsung di Indonesia saat ini, mulai dari pendidikan pra sekolah, pendidikan dasar, menengah, atas, dan pendidikan tinggi, tidak lepas dari konsep pendidikan yang jauh hari telah digagas dan dijalankan oleh Ki Hajar. Sehingga jelas bahwa, Ki Hajar Dewantara merupakan pahlawan nasional dalam dunia pendidikan yang telah berjasa besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Semangat dan pemikirannya tentang pendidikan masih relevan hingga saat ini dan menjadi inspirasi bagi banyak pendidik di Indonesia.

Kesimpulan

Ki Hajar Dewantara, merupakan sosok yang tak terpisahkan dari perjuangan memajukan pendidikan di tanah air. Beliau tidak hanya kritis terhadap sistem pendidikan kolonial Belanda yang tidak berpihak pada rakyat, tetapi juga bertekad membangun pendidikan yang berlandaskan kemerdekaan belajar, penghormatan pada kodrat alam anak, dan pelestarian budaya Indonesia. 

Melalui pendirian Taman Siswa pada tahun 1922, Ki Hajar Dewantara meletakkan dasar bagi pendidikan nasional yang berpusat pada anak (Tut Wuri Handayani). Organisasi ini terus berkembang dan menginspirasi munculnya berbagai gerakan dan lembaga pendidikan alternatif di Indonesia, bahkan setelah kemerdekaan.

Sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pertama Republik Indonesia, Ki Hajar Dewantara turut berperan merumuskan sistem pendidikan nasional yang relevan hingga saat ini. Semboyan “Tut Wuri Handayani” pun menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. 

Warisan Ki Hajar Dewantara tidak hanya berupa konsep pendidikan dan sekolah Taman Siswa, tetapi juga semangat dan pemikirannya yang terus menjadi pedoman bagi para pendidik di Indonesia. Saat ini melalui kebijakan Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka, kita dapat merasakan bagaimana pemerintah mengaplikasikan konsep pendidikan Taman Siswa yang digagas dan dijalankan Ki Hajar Dewantara, yang memang sesuai dengan karakter masyarakat dan bangsa Indonesia.

Sumber Referensi:

  1. Materi kuliah Ki Hadjar Dewantara dan Tamansiswa yang disampaikan oleh Prof. Dr. Supriyoko, M.Pd. 
  2. Biografi Ki Hajar Dewantara: https://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Hajar_Dewantara
  3. Sejarah Taman Siswa: https://www.kompas.com/skola/read/2020/12/21/173543969/sejarah-taman-siswa-pendirian-dan-ajarannya
  4. Filosofi Pendidikan Taman Siswa: https://berandainspirasi.id/filosofi-pendidikan-nasional-ki-hadjar-dewantara/
  5. Panduan Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka: https://www.kemdikbud.go.id/

Quotes Pemikiran Ki Hajar Dewantara

Terpisah dari artikel yang saya tulis di atas. Berikut adalah Quotes Pemikiran Ki Hajar Dewantara yang syarat akan makna pentingnya pendidikan. Quotes Ki Hajar Dewantara ini, kiranya dapat menjadi pegangang dan juga semangat generasi bangsa Indonesia dalam menghadirkan pendidikan yang sesuai dengan arah kehidupan bangsa seperti yang telah dirumuskan oleh Ki Hajar Dewantara. Berikut kumpulan quotes Ki Hajar Dewantara yang saya kumpulkan dari berbagai sumber:

1. “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.” – Ki Hajar Dewantara.

2. “Among System kita yaitu: menyokong kodrat alamnya anak-anak yang kita didik, agar dapat mengembangkan hidupnya lahir dan batin menurut kodratnya sendiri-sendiri.” – Ki Hajar Dewantara.

3. “Dengan budi pekerti, tiap-tiap manusia berdiri sebagai manusia merdeka (berpribadi), yang dapat memerintah atau menguasai diri sendiri. Inilah manusia beradab dan itulah maksud dan tujuan pendidikan dalam garis besarnya.” – Ki Hajar Dewantara.

4. “Dengan ilmu kita menuju kemuliaan.” – Ki Hajar Dewantara.

5. “Di dalam hidupnya anak-anak adalah tiga tempat pergaulan yang menjadi pusat pendidikan yang amat penting baginya, yaitu alam keluarga, alam perguruan dan alam pergerakan pemuda.” – Ki Hajar Dewantara.

6. “Di mana ada kemerdekaan di situ harus ada disiplin yang kuat. Sungguh disiplin itu bersifat self disiplin, yaitu kita sendiri mewajibkan dengan sekeras-kerasnya. Dan peraturan yang sedemikian itu harus ada di dalam suasana yang merdeka.” – Ki Hajar Dewantara.

7. “Guru jangan hanya memberi pengetahuan yang perlu dan baik saja tetapi harus juga mendidik si murid akan dapat mencari sendiri pengetahuan itu dan memakainya guna amal keperluan umum. Pengetahuan yang baik dan perlu itu yang manfaat untuk keperluan lahir batin dalam hidup bersama.” – Ki Hajar Dewantara.

8. “Maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk kehidupan bersama adalah memerdekakan manusia sebagai anggota persatuan (rakyat).” – Ki Hajar Dewantara.

9. “Pendidikan dan pengajaran di dalam Republik Indonesia harus berdasarkan kebudayaan dan kemasyarakatan bangsa Indonesia, menuju ke arah kebahagiaan batin serta keselamatan hidup lahir.” – Ki Hajar Dewantara.

10. “Pengaruh pengajaran itu umumnya memerdekakan manusia atas hidupnya lahir, sedang merdekanya hidup batin terdapat dari pendidikan.” – Ki Hajar Dewantara.

11. “Ada satu kebebasan yang lebih tinggi daripada kebebasan politik, yaitu kebebasan untuk memilih cara hidup sendiri, kebebasan untuk memilih cara hidup yang dibenarkan oleh hati nurani dan kebijaksanaan.” – Ki Hajar Dewantara.

12. “Anak-anak tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu” – Ki Hajar Dewantara.

13. “Dunia pendidikan tak lepas dari para pengajar alias guru, para pejuang tulus tanpa tanda jasa yang mencerdaskan kehidupan bangsa.” – Ki Hajar Dewantara.

14. “Guru adalah seorang pejuang tulus tanpa tanda jasa mencerdaskan bangsa.” – Ki Hajar Dewantara.

15. “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.” (Di depan memberi contoh, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan)

16. “Jika ingin mengubah dunia, mulailah dengan mengubah diri sendiri.” – Ki Hajar Dewantara.

17. “Melalui ngerti, ngrasa, lan nglakoni (menyadari, menginsyafi, dan melakukan), budi pekerti yang dibentuk untuk merdeka dan mandiri akan hadir adab.” – Ki Hajar Dewantara.

18. “Membaca adalah jendela dunia. Tetapi tidak hanya itu, membaca juga adalah sebuah kunci yang dapat membuka pintu-pintu rahasia ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.” – Ki Hajar Dewantara.

19. “Mempunyai ketetapan, tidak tergoyahkan, berisi dengan berilmu pengetahuan, hingga yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa apa yang dilakukannya adalah benar dan baik.” – Ki Hajar Dewantara.

20. “Orang yang mempunyai kecerdasan budi pekerti itu senantiasa memikir-mikirkan dan merasa-rasakan serta selalu memakai ukuran, timbangan dan dasar-dasar yang pasti dan tetap.” – Ki Hajar Dewantara.

21. “Pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup. Pendidikan itu sendiri adalah kehidupan.” – Ki Hajar Dewantara.

22. “Pendidikan sejati adalah pendidikan yang mengajarkan kita untuk hidup bersama, untuk saling menghargai, untuk saling membantu, untuk saling mencintai.” – Ki Hajar Dewantara.

23. “Percaya, tegas, penuh ilmu hingga matang jiwanya, serta percaya diri, tidak mudah takut, tabah menghadapi rintangan apapun.” – Ki Hajar Dewantara.

24. “Seorang pemimpin sejati adalah pemimpin yang mampu memimpin dengan hati dan berpijak pada moralitas yang benar.” – Ki Hajar Dewantara.

25. “Sesungguhnya, hidup itu ibarat sebuah buku. Siapa yang tidak pernah belajar, sama saja dengan buku yang tidak pernah dibaca.” – Ki Hajar Dewantara.

26. “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.” – Ki Hajar Dewantara.

27. “Tak ada orang yang lahir sebagai musuh. Hanya ketidaktahuan dan ketidak-pahaman yang menciptakan permusuhan.” – Ki Hajar Dewantara.

28. “Tidak ada anak yang bodoh. Yang ada hanya guru yang tidak tahu cara mengajar.” – Ki Hajar Dewantara.

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X

Terkait

Previous Post

Apa Saja Keuntungan Desa Wisata?

Next Post

Kunci Sukses Pokdarwis Mengembangkan Desa Wisata

Ryan Ariyanto

Ryan Ariyanto

Ryan Ariyanto, S.E., M.M. adalah praktisi dan trainer di bidang pengembangan sumber daya manusia desa, ekonomi kerakyatan, dan pariwisata berbasis komunitas. Lulusan S1 Manajemen Sumber Daya Manusia dan S2 Magister Manajemen Pariwisata, dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam pendampingan BUMDes, desa wisata, koperasi, ekonomi kreatif, serta pelatihan digital marketing dan penguatan kelembagaan desa. Aktif sebagai peneliti di Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM dan pengelola platform edukasi sedesa.id.

Related Posts

Kuliner 24 Jam di Yogyakarta Rekomendasi Tempat Makan Malam di Jogja
Catatan Penulis

Kuliner 24 Jam di Yogyakarta Rekomendasi Tempat Makan Malam di Jogja

by Ryan Ariyanto
Januari 11, 2026
0

Sedesa.id Yogyakarta tidak pernah benar-benar tidur. Banyak wisatawan yang bilang bahwa salah satu pesona terbaik kota ini justru muncul saat...

Read moreDetails
Bagaimana Menilai & Memilih Desa Wisata untuk Liburan
Catatan Penulis

Bagaimana Menilai & Memilih Desa Wisata untuk Liburan

by Ryan Ariyanto
Desember 21, 2025
0

Sedesa.id Desa wisata kini menjadi pilihan liburan favorit bagi banyak wisatawan yang ingin menikmati suasana yang lebih tenang, alami, dan...

Read moreDetails
Sedesa.id Slow Travel
Catatan Penulis

Perjalanan “Slow Travel” ke Desa Wisata: Panduan 2–3 Hari untuk Menyelami Ketenangan & Kehidupan Desa

by Ryan Ariyanto
Desember 6, 2025
0

Sedesa.id Kalau kamu bosan dengan liburan kilat yang hanya “foto–makan–pulang”, mungkin saatnya mencoba pendekatan berbeda: slow travel ke desa wisata....

Read moreDetails

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Archive

Most commented

Download Buku Tamu Koperasi untuk Koperasi Umum dan KOPDES Merah Putih

Download Buku Notulen Rapat Pengurus Koperasi untuk Koperasi Umum dan KOPDES Merah Putih

Download Buku Notulen Rapat Anggota Koperasi untuk Koperasi dan Koperasi Desa Merah Putih

Rekrutmen SPPI–KDKMP 2026: Syarat dan Cara Daftar Serta Hal yang Perlu Dipahami

Download Buku Daftar Pengawas Koperasi: Pengertian, Fungsi, Format, dan Administrasi Untuk Koperasi Desa Merah Putih

Download Buku Daftar Pengurus Koperasi: Pengertian, Fungsi, Format, dan Format Untuk Koperasi Desa Merah Putih

Seedbacklink
  • About us
  • Terms of service
  • Privacy Policy
Call us: 085643190105

Sedesa.id © 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Desa
    • Koperasi
    • BUMDes
    • Peluang Usaha
    • Materi dan Publikasi
  • Digital Marketing
  • Nalara Kopi
  • Sedesa TV
  • Layanan
    • Pelatihan Wisata Berkelanjutan
    • Pelatihan Pasar Rakyat

Sedesa.id © 2025

Eksplorasi konten lain dari sedesa.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca