• Call: +6285643190105
  • E-mail: sapasedesa@gmail.com
  • Login
  • Register
Education Blog
  • Panduan Praktis
    • Koperasi
    • Materi dan Publikasi
    • BUMDes
    • Peluang Usaha
  • Tentang Ryan
  • Catatan Penulis
  • Digital Marketing
  • Nalara Kopi
  • Kabar & Agenda
    • Sedesa TV
  • Pelatihan & Konsultasi
    • Pelatihan Wisata Berkelanjutan
    • Pelatihan Pasar Rakyat
No Result
View All Result
sedesa.id
No Result
View All Result
Home Panduan Praktis BUMDes

Produk Desa Madu Kelulut Upaya Menjaga Ekosistem

Ryan Ariyanto by Ryan Ariyanto
Agustus 28, 2020
in BUMDes, Desa
0
Produk Desa Madu Kelulut Upaya Menjaga Ekosistem

https://sedesa.id/wp-content/uploads/2020/08/Produk-Desa-Madu-Kelulut-Upaya-Menjaga-Ekosistem.jpg

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on TekegranShare on Tekegran

Sedesa.id Produk Desa dapat beragam. Baik produk yang merupakan warisan tradisi, produk hasil inovasi, buatan warga, atau pun produk potensi dari alam sekitar. Salah satu produk lokal desa yang berasal dari kekayaan ekosistem adalah madu kelulut.

Madu yang manis, tentu akan memberikan nilai ekonomi yang manis juga.  Hal ini jika pengelolaan madu dilakukan secara profesional, dan tetap menjaga keseimbangan ekosistem. Mengapa? Karena segala proses yang alami, akan memberikan hasil yang berkelanjutan.

RelatedPosts

Strategi BUMDes Mengelola Dana Desa untuk Usaha Produktif

Cara Menyusun Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) BUMDes Tahunan

Contoh Unit Usaha BUMDes yang Terbukti Menguntungkan di Berbagai Desa

Produk Desa Madu Kelulut; Menjaga Ekosistem Desa Bernilai Ekonomi

Meliponini adalah jenis lebah penghasil madu yang hidup dalam daerah tropis. Dalam bahasa lokal atau Indonesia lebah Meliponini lebih familiar dengan nama Kelulut.  Kelulut banyak hidup pada daerah tropis dan hutan Indonesia seperti Pulau Sumatera dan Kalimantan. Kelulut merupakan salah satu jenis serangga yang memiliki hubungan simbiosis mutualisme dengan aneka jenis tanaman berbunga.

Hubungan simbiosis Kelulut dengan tanaman adalah dengan cara mengambil sari madu dari bunga-bunga tanaman, sebaliknya tanaman memerlukan serangga kelulut untuk membantu penyerbukan atau persilangan bunga jantan dan bunga betina. Dengan kondisi demikian, maka tanaman dapat berbunga dan berbuah.

Keberadaan Kelulut sebagai penghasil madu, kini telah menjadi bagian dari Inovasi Produk Desa Murung Ta’al RT 02 RW 01, Kecamatan Labuan Amas Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.

Kisah manis madu Kelulut berawal dari seorang pemuda bernama Yamin Fauzi yang menemukan sarang kelulut di hutan. Sadar akan keberadaan madu pada sarang kelulut, maka Fauzi membawa pulang sarang kelulut untuk dibudidayakan.

Dalam waktu beberapa bulan, sarang Kelulut milik Fauzi berhasil berkembang biak mencapai puluhan sarang. Langkah Fauzi membudidaya kelulut ini akhirnya menginspirasi banyak warga desa lainnya. Hal ini tidak lain karena dari satu sarang saja dapat menghasilkan madu sekitar 1 sampai 1,5 liter.

Selain itu keberadaan kelulut milik Fauzi juga membantu proses pembuahan tanaman di sekitar desa, sehingga tanaman mudah berbuah.

Pendapatan Ekonomi Desa Menjadi ‘Merata’ dan Terjaga

Warga Desa Murung Ta’al, setidaknya dalam satu rumah tangga telah memiliki 10 buah sarang kelulut. Dengan memiliki 10 sarang, rata-rata warga dapat tambahan nilai ekonomi dari penjualan madu sekitar 3 Juta rupiah. Penjualan madu kelulut saat ini masih terbatas di wilayah Kalimantan.

Dari sisi ekonomi kelulut memberikan manfaat bagi warga yaitu memiliki tambahan pendapatan. Akan tetapi tidak hanya pada manfaat ekonomi secara langsung dari madu saja, keberadaan kelulut meningkatkan pendapatan warga dari sektor lain yaitu sektor pertanian dan perkebunan dengan adanya kelulut sektor ini menjadi berkembang dan produksi yang maksimal.

Kehadiran kelulut sangat membantu peningkatan produksi buah-buahan di kebun warga desa. Karenanya aktivitas budidaya kelulut, pada akhirnya menumbuhkan kesadaran untuk memelihara dan melestarikan lingkungan yang menjadi habitat kelulut.

Saat ini, kelompok kelulut ini masih berdiri sendiri, belum ada BUMDes yang hadir dalam upaya menciptakan inovasi lanjutan dalam pengemasan dan pemasaran misalnya. Karenanya menjadi harapan bersama ke depan dari inisiasi warga dan pemerintah desa, tentu perlu adanya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam mendukung permodalan dan pemasaran madu yang dihasilkan masyarakat. Sehingga akan memiliki kualitas dan kuantitas yang lebih baik, serta dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

Keberhasilan Fauzi warga Murung Ta’al dalam menangkap potensi yang melimpah dari lingkungan tempat tinggalnya, nyatanya mampu membuat perubahan mendasar bagi warga, baik secara sosial-ekonomi maupun dalam upaya melestarikan alam.

Dari Fauzi kita bersama belajar, bagaimana gerakan-gerakan kecil dapat menjadi gerakan bersama yang lebih besar, demi terwujudnya desa yang mandiri, desa maju.

Kesimpulan Produk Desa Madu Kelulut

Produk desa sangat beragam. Mulai dari produk buatan sampai produk yang merupakan hasil dari kekayaan alam dan ekosistem lokal desa. Semua potensi yang ada, yang kemudian dimanfaatkan sebagai produk lokal desa memang harus didukung dan dikelola secara profesional.

Tidak jarang, kelahiran sebuah produk suatu daerah adalah buah karya satu dua warganya. Buah karya yang kemudian menginspirasi dan memotivasi warga lainnya. Seperti cerita manis madu kelulut. Tanpa adanya kemauan berbuat dari satu orang, maka tidak   akan ada cerita manis madu kelulut.

Maka berbicara keberadaan produk desa, penting bagi pemangku kebijakan lokal desa dan lembaga lokal desa untuk memikirkan secara serius. Misalnya, keberadaan BUMDes dan Pasar Desa sebagai wadah memasarkan produk lokal  desa.

BUMDes memiliki peranan penting, sebab salah satu dari tujuan BUMDes tentu saja menjadi badan usaha yang dapat memberikan dampak  ekonomi secara luas bagi warga desa. Maka, BUMDes kiranya perlu melihat lebih dalam bagaimana kondisi kegiatan ekonomi warga desa.

Demikian pembahasan kali ini mengenai Produk Desa Madu Kelulut Upaya Menjaga Ekosistem dan Ekonomi Desa semoga bermanfaat dan dapat menjadi motivasi kita bersama dalam upaya terus mengembangkan desa, salah satunya dari kegiatan ekonomi, dari keberadaan produk desa. Terima kasih. Salam.Salam. Ari Sedesa.id

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X

Terkait

Previous Post

Peluang Usaha Ibu Rumah Tangga Dari Hobi Sehari-hari

Next Post

Unit Usaha BUMDes Wisata Alam Yang Berkelanjutan

Ryan Ariyanto

Ryan Ariyanto

Ryan Ariyanto, S.E., M.M. adalah praktisi dan trainer di bidang pengembangan sumber daya manusia desa, ekonomi kerakyatan, dan pariwisata berbasis komunitas. Lulusan S1 Manajemen Sumber Daya Manusia dan S2 Magister Manajemen Pariwisata, dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam pendampingan BUMDes, desa wisata, koperasi, ekonomi kreatif, serta pelatihan digital marketing dan penguatan kelembagaan desa. Aktif sebagai peneliti di Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM dan pengelola platform edukasi sedesa.id.

Related Posts

Ilustrasi flat strategi BUMDes mengelola dana desa untuk usaha produktif
BUMDes

Strategi BUMDes Mengelola Dana Desa untuk Usaha Produktif

by Ryan Ariyanto
September 13, 2026
0

Dana Desa yang disertakan sebagai modal BUMDes seharusnya menjadi mesin penggerak ekonomi, bukan sekadar dana yang mengendap di rekening. Namun...

Read moreDetails
Ilustrasi flat cara menyusun LPJ BUMDes tahunan
BUMDes

Cara Menyusun Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) BUMDes Tahunan

by Ryan Ariyanto
September 12, 2026
0

Setiap akhir tahun, pengurus BUMDes dihadapkan pada satu kewajiban penting: menyusun dan mempresentasikan LPJ BUMDes dalam musyawarah desa. Laporan Pertanggungjawaban...

Read moreDetails
Ilustrasi flat contoh unit usaha BUMDes yang menguntungkan
BUMDes

Contoh Unit Usaha BUMDes yang Terbukti Menguntungkan di Berbagai Desa

by Ryan Ariyanto
September 11, 2026
0

Tidak semua BUMDes berhasil. Banyak yang berdiri lalu mati suri karena unit usahanya dipilih asal-asalan tanpa melihat potensi desa. Namun...

Read moreDetails

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Archive

Most commented

Foto Baju Adat Jawa di Jogja: Lokasi dan Cara Sewa Baju Adatnya!

Praktisi sedesa.id Dampingi Warga Muting Merauke Bangun Kelembagaan Ekonomi Kawasan

Memperkuat Kelembagaan Ekonomi Kawasan: Tim 16 TEP UGM & Warga Petakan Aset Produktif di Muting

Cara Menyeduh Kopi Robusta Wonosobo agar Rasa Smooth dan Tidak Pahit

Strategi Promosi Digital untuk Desa Wisata Agar Ramai Pengunjung

5 Desa Wisata di Jawa Tengah yang Wajib Dikunjungi Akhir Pekan Ini

  • About us
  • Terms of service
  • Privacy Policy
Call us: 085643190105

Sedesa.id © 2026

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Panduan Praktis
    • Koperasi
    • Materi dan Publikasi
    • BUMDes
    • Peluang Usaha
  • Tentang Ryan
  • Catatan Penulis
  • Digital Marketing
  • Nalara Kopi
  • Kabar & Agenda
    • Sedesa TV
  • Pelatihan & Konsultasi
    • Pelatihan Wisata Berkelanjutan
    • Pelatihan Pasar Rakyat

Sedesa.id © 2026

Eksplorasi konten lain dari sedesa.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca