• Call: +6285643190105
  • E-mail: sapasedesa@gmail.com
  • Login
  • Register
Education Blog
  • Panduan Praktis
    • Koperasi
    • Materi dan Publikasi
    • BUMDes
    • Peluang Usaha
  • Tentang Ryan
  • Catatan Penulis
  • Digital Marketing
  • Nalara Kopi
  • Kabar & Agenda
    • Sedesa TV
  • Pelatihan & Konsultasi
    • Pelatihan Wisata Berkelanjutan
    • Pelatihan Pasar Rakyat
No Result
View All Result
sedesa.id
No Result
View All Result
Home Catatan Penulis

Strategi Bertahan dan Bangkit Desa Wisata

Ryan Ariyanto by Ryan Ariyanto
April 19, 2025
in Catatan Penulis, Desa Wisata
0
sedesa.id strategi bangkit desa wisata
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on TekegranShare on Tekegran

Sedesa.id Pandemi Covid-19 adalah peristiwa global yang mengguncang hampir semua sektor kehidupan. Dunia pariwisata, termasuk desa wisata, menjadi salah satu sektor yang paling terdampak. Dalam sekejap, arus wisatawan berhenti. Homestay yang biasanya ramai, mendadak sepi. Atraksi budaya dihentikan, festival lokal dibatalkan, dan masyarakat desa yang menggantungkan hidup dari pariwisata harus kembali mencari cara bertahan.

Namun seperti pepatah, “di balik musibah selalu ada hikmah”. Pandemi ini juga menjadi titik balik yang membuka mata banyak pihak, bahwa ketahanan desa wisata tidak bisa hanya bergantung pada jumlah kunjungan wisatawan.

RelatedPosts

Praktisi sedesa.id Dampingi Warga Muting Merauke Bangun Kelembagaan Ekonomi Kawasan

Memperkuat Kelembagaan Ekonomi Kawasan: Tim 16 TEP UGM & Warga Petakan Aset Produktif di Muting

Strategi Promosi Digital untuk Desa Wisata Agar Ramai Pengunjung

Lebih dari itu, ketahanan harus dibangun dari dalam: dari semangat kolaborasi, inovasi lokal, dan kekuatan komunitas. Banyak desa mulai memikirkan kembali arah pembangunan mereka—bukan hanya untuk pulih, tetapi untuk bangkit menjadi lebih tangguh dari sebelumnya.

Artikel ini mencoba mengulas strategi bertahan dan bangkitnya desa wisata pasca pandemi, berdasarkan refleksi dari buku Desa Wisata: Membangun Desa dengan Pariwisata (Politeknik Pariwisata Bali, 2022) dan berbagai pengalaman lapangan yang menginspirasi. Harapannya, artikel ini bisa menjadi bahan pembelajaran dan dorongan semangat bagi pelaku pariwisata desa di seluruh Indonesia.

Pandemi dan Kerentanan Desa Wisata

Ketika pandemi menghantam, sektor pariwisata adalah yang paling pertama terhenti dan yang paling terakhir pulih. Desa wisata pun tak luput dari badai ini. Banyak kegiatan wisata berhenti total, termasuk operasional homestay, layanan pemandu, usaha kuliner lokal, hingga kegiatan seni budaya. Tidak hanya pendapatan desa yang terhenti, tapi juga aktivitas sosial masyarakat ikut terganggu.

Dampak tersebut tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga sosial dan psikologis. Banyak warga desa wisata kehilangan penghasilan utama, sehingga terpaksa kembali bertani atau mencari pekerjaan lain. Kegiatan adat pun turut dibatasi karena protokol kesehatan. Bahkan, beberapa desa mulai kehilangan semangat untuk mengembangkan pariwisatanya karena rasa frustrasi dan kelelahan.

Namun yang menarik, justru dalam kondisi penuh tekanan inilah muncul kekuatan-kekuatan baru di tengah masyarakat. Beberapa desa wisata mulai memunculkan inovasi untuk bertahan: dari mengubah homestay jadi tempat isolasi, menjual produk desa lewat daring, hingga menyusun ulang strategi branding desa. Inilah titik awal dari perubahan—bahwa desa wisata tidak boleh hanya bergantung pada kunjungan wisatawan, tetapi juga pada kapasitas dan solidaritas warga desanya.

Baca juga: Desa Wisata di Era Digital: Siapkah Digitalisasi Menyentuh Pedesaan?

Strategi Bertahan: Menguatkan Fondasi dari Dalam

Langkah pertama yang diambil banyak desa wisata selama masa pandemi adalah penyelamatan sumber daya internal. Hal ini dilakukan dengan mengidentifikasi kembali potensi lokal yang tidak tergantung pada keramaian wisatawan. Misalnya, desa yang memiliki produk unggulan seperti kopi, kerajinan bambu, atau rempah-rempah, mulai fokus mengembangkan usaha mikro berbasis komunitas.

Selain itu, banyak desa wisata memulai transformasi digital sederhana. Pemasaran produk dilakukan lewat media sosial dan marketplace. Layanan reservasi homestay mulai dicoba melalui WhatsApp Business. Bahkan, beberapa desa melakukan live streaming kegiatan adat atau pertunjukan seni sebagai upaya menjaga eksistensi sekaligus menjangkau wisatawan secara virtual.

Langkah penting lainnya adalah penataan manajemen internal. Pokdarwis dan pengelola desa wisata melakukan refleksi dan evaluasi menyeluruh. Apakah program yang selama ini dijalankan benar-benar memberdayakan masyarakat? Apakah sudah ada SOP layanan wisata? Apakah sistem keuangan desa wisata sudah transparan dan akuntabel? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi bekal penting untuk bangkit secara berkelanjutan.

Strategi Bangkit: Kolaborasi, Digitalisasi, dan Diversifikasi

Setelah masa darurat mereda, fokus desa wisata mulai bergeser ke tahap pemulihan dan kebangkitan. Strategi utama yang banyak diadopsi adalah kolaborasi multipihak. Pemerintah, kampus, LSM, dan swasta diajak untuk membangun program bersama yang tidak hanya memberi bantuan jangka pendek, tetapi juga mendorong inovasi jangka panjang. Misalnya, pelatihan SDM, pendampingan bisnis, hingga pengembangan aplikasi reservasi dan pemasaran desa.

Digitalisasi menjadi kata kunci utama. Tapi digitalisasi yang dimaksud bukan sekadar memiliki akun Instagram atau brosur online. Lebih dari itu, digitalisasi harus menyentuh proses manajemen, pencatatan keuangan, pemetaan potensi, hingga sistem tiket masuk dan review wisatawan.

Aplikasi sederhana berbasis desa bisa membantu mendekatkan layanan ke pengunjung dan memberikan rasa percaya terhadap profesionalisme desa wisata.

Strategi lain yang tak kalah penting adalah diversifikasi produk wisata. Selama ini banyak desa hanya mengandalkan atraksi tertentu seperti tari-tarian atau pemandangan alam. Setelah pandemi, desa wisata mulai menyadari pentingnya variasi: wisata edukasi (belajar menanam, membatik, memasak), wisata spiritual (meditasi, healing), hingga wisata agrikultur (petik buah, panen kopi, dll). Semakin beragam produk, semakin fleksibel desa dalam menghadapi perubahan tren wisata.

Kamu wajib baca! Society 5.0 dan Desa Wisata: Masyarakat Jadi Pusat Inovasi Pariwisata

Desa Wisata yang Resilien: Membangun dari Komunitas

Resiliensi atau daya tahan desa wisata tidak dibangun dalam semalam. Ia lahir dari proses panjang penguatan komunitas. Masyarakat harus merasa bahwa program desa wisata adalah milik mereka, bukan sekadar proyek pemerintah. Maka, penguatan kapasitas SDM lokal menjadi prioritas.

Dalam konteks ini, peran driver force atau tokoh penggerak desa sangat penting. Mereka menjadi penyambung antara masyarakat dan ide-ide baru. Mereka membangun semangat, mempertemukan warga, dan menyusun langkah-langkah kecil yang berkelanjutan. Mereka pula yang menciptakan ekosistem desa wisata yang sehat: partisipatif, terbuka, dan saling mendukung.

Pendekatan IITCA (Integrative, Interactive, Transparency, Controlling, Accountability) yang diperkenalkan dalam buku Desa Wisata menjadi sangat relevan. Tata kelola yang baik tidak hanya meningkatkan kepercayaan masyarakat, tapi juga membangun citra positif desa di mata wisatawan dan mitra kerja. Di sinilah letak kekuatan desa: bukan pada jumlah tamu, tapi pada ketangguhan komunitasnya.

Cek tulisan sebelumnya: Pembahasan Lengkap dan Contoh Desa Cerdas

Saatnya Desa Menjadi Cahaya di Tengah Ketidakpastian

Tiga tahun terakhir telah mengajarkan kita satu hal penting: yang kuat bukan yang besar, tapi yang lentur dan adaptif. Desa wisata yang mampu bertahan dan bangkit pasca pandemi adalah desa yang berani berubah, belajar, dan terus bergerak. Mereka tidak menunggu bantuan dari luar, tapi mulai dari langkah kecil di dalam.

Saat dunia mencari cara baru untuk berwisata—yang lebih bermakna, sehat, dan manusiawi—desa menjadi jawaban. Desa menawarkan ketenangan, keterhubungan dengan alam, dan nilai-nilai kearifan lokal yang makin dicari oleh wisatawan pasca pandemi. Inilah momentum besar bagi desa wisata di Indonesia.

Sebagai penulis dan bagian dari komunitas desa, saya percaya bahwa desa bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga pusat peradaban masa depan. Mari jadikan pandemi bukan sebagai akhir, melainkan awal dari gerakan besar: membangun desa wisata yang mandiri, tangguh, dan membanggakan.


Referensi:

  • Ni Desak Made Santi Diwyarthi. (2022). Desa Wisata: Membangun Desa dengan Pariwisata. Politeknik Pariwisata Bali.
  • Dewi, R., Suyanto, E., & Harliana, S.T. (2021). Desa Wisata dan Pandemi Covid-19: Analisis Dampak dan Strategi Pemulihan.
  • Rianto, dkk. (2021). Kebijakan Publik Desa Wisata sebagai Solusi Ekonomi Masa Pandemi. Jurnal Inovasi Penelitian.
  • Prakoso, L.Y., Sianturi, D. (2019). Pertahanan Ekonomi Berbasis Desa Wisata.

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X

Terkait

Previous Post

Society 5.0 dan Desa Wisata: Masyarakat Jadi Pusat Inovasi Pariwisata

Next Post

Lima Pilar Penting Keberhasilan Desa Wisata Berkelanjutan

Ryan Ariyanto

Ryan Ariyanto

Ryan Ariyanto, S.E., M.M. adalah praktisi dan trainer di bidang pengembangan sumber daya manusia desa, ekonomi kerakyatan, dan pariwisata berbasis komunitas. Lulusan S1 Manajemen Sumber Daya Manusia dan S2 Magister Manajemen Pariwisata, dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam pendampingan BUMDes, desa wisata, koperasi, ekonomi kreatif, serta pelatihan digital marketing dan penguatan kelembagaan desa. Aktif sebagai peneliti di Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM dan pengelola platform edukasi sedesa.id.

Related Posts

Praktisi sedesa.id Dampingi Warga Muting Merauke Bangun Kelembagaan Ekonomi Kawasan
Berita Desa

Praktisi sedesa.id Dampingi Warga Muting Merauke Bangun Kelembagaan Ekonomi Kawasan

by Ryan Ariyanto
Oktober 9, 2026
0

Kawasan Transmigrasi Muting di Merauke, Papua Selatan, menyimpan kekayaan alam yang luar biasa. Namun, besarnya potensi ini belum berbanding lurus...

Read moreDetails
Sedesa.id Pengembangan Kelembagaan Ekonomi Lokal di Merauke
Berita Desa

Memperkuat Kelembagaan Ekonomi Kawasan: Tim 16 TEP UGM & Warga Petakan Aset Produktif di Muting

by Ryan Ariyanto
Oktober 9, 2026
0

Kawasan Transmigrasi Muting, Merauke, menyimpan potensi ekonomi lokal yang masif namun belum terintegrasi secara maksimal. Merespons kondisi tersebut, Tim Ekspedisi...

Read moreDetails
Ilustrasi flat promosi digital desa wisata
Desa Wisata

Strategi Promosi Digital untuk Desa Wisata Agar Ramai Pengunjung

by Ryan Ariyanto
September 22, 2026
0

Punya potensi alam dan budaya yang indah saja tidak cukup jika tidak ada yang tahu. Banyak desa wisata yang sebenarnya...

Read moreDetails

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Archive

Most commented

Foto Baju Adat Jawa di Jogja: Lokasi dan Cara Sewa Baju Adatnya!

Praktisi sedesa.id Dampingi Warga Muting Merauke Bangun Kelembagaan Ekonomi Kawasan

Memperkuat Kelembagaan Ekonomi Kawasan: Tim 16 TEP UGM & Warga Petakan Aset Produktif di Muting

Cara Menyeduh Kopi Robusta Wonosobo agar Rasa Smooth dan Tidak Pahit

Strategi Promosi Digital untuk Desa Wisata Agar Ramai Pengunjung

5 Desa Wisata di Jawa Tengah yang Wajib Dikunjungi Akhir Pekan Ini

  • About us
  • Terms of service
  • Privacy Policy
Call us: 085643190105

Sedesa.id © 2026

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Panduan Praktis
    • Koperasi
    • Materi dan Publikasi
    • BUMDes
    • Peluang Usaha
  • Tentang Ryan
  • Catatan Penulis
  • Digital Marketing
  • Nalara Kopi
  • Kabar & Agenda
    • Sedesa TV
  • Pelatihan & Konsultasi
    • Pelatihan Wisata Berkelanjutan
    • Pelatihan Pasar Rakyat

Sedesa.id © 2026

Eksplorasi konten lain dari sedesa.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca