Mendirikan Desa Wisata Berbasis Budaya

Mendirikan Desa Wisata Berbasis Budaya

Sedesa.id Mendirikan Desa Wisata Berbasis Budaya kita tahu bahwa Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan alam dan budanya. Indonesia secara geografis terdiri dari berbagai pulau, yang mana hal ini menjadikan bentang alam Indonesia tidak hanya menawarkan pesona keindahan alam yang memang sudah terkenal ke berbagai penjuru dunia.  Akan tetapi juga memiliki keanekaragaman budaya dari Sabang sampai Merauke.

Di dalam kancah dunia, kekayaan alam dan budaya Indonesia tercatat sebagai salah satu negara paling kaya akan ragam budaya di dunia. Warisan budaya lokal Indonesia sudah banyak yang kemudian terdaftar sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO.

Sejarah Ragam Budaya Indonesia

Budaya Indonesia adalah seluruh kebudayaan nasional, kebudayaan lokal, maupun kebudayaan asal asing yang telah ada di Indonesia sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945. Budaya Indonesia tidak hanya mencakup budaya asli bumi putra, tetapi juga mencakup budaya-budaya pribumi yang mendapat pengaruh budaya Tiongkok, Arab, India, dan Eropa.

Keragaman budaya Indonesia tidak main-main, kita tentu patut bangga bahwa beberapa budaya Indonesia sudah diakui oleh dunia dan sudah tercatat oleh UNESCO, bahkan tidak sedikit warga negara asing (WNA) yang tertarik dengan kekayaan budaya Indonesia dan tidak segan-segan mengeluarkan biaya untuk tinggal di Indonesia untuk belajar budaya yang dikaguminya ini.

Sebagai warga Indonesia sudah sepantasnya kita turut bangga dengan kebudayaan yang telah ada di negara tercinta ini, dan sudah selayaknya ingin mewarisi budaya ini dengan mempelajarinya agar tidak kalah dengan warga negara asing yang justru sangat tertarik mempelajari dan menghargainya.

Menjaga Budaya Agar Tetap Lestari Dengan Desa Wisata Berbasis Budaya

Budaya yang kita miliki merupakan peluang besar, seperti telah disebutkan di atas, bahwa mereka yang di luar Indonesia, warga negara asing sangat tertarik dan ingin belajar budaya yang ada di Indonesia. Maka, kita jangan sampai kehilangan ‘kebudayaan’ yang merupakan aset luar biasa, yang menjadi warisan sangat berharga bagi kehidupan kita.

Maka, diperlukan upaya-upaya untuk melestarikan kebudayaan kita, salah satunya adalah dengan ‘menghidupkan’ kembali kebudayaan yang ada di lingkungan kita. Indonesia yang beragam, terdiri dari berbagai pulau, berbagai daerah, berbagai suku, ras, agama dan adat istiadat pembentuknya, tentu memiliki kebudayaannya masing-masing,  sampai pada struktur masyarakat terkecil yaitu desa.

Setiap desa memiliki adat istiadat dan kebudayaan masing-masing, warisan leluhur yang perlu dijaga agar tetap lestari, perlu diwariskan ke generasi mendatang, agar tidak kehilangan jati diri dan tergerus oleh kebudayaan yang datang dari adanya globalisasi kebudayaan dewasa ini.

Bagaimana caranya agar budaya tetap lestari? Kita bisa memulai dengan pergerakan di lingkup terkecil yaitu di desa kita masing-masing. Salah satunya yaitu dengan mendirikan desa wisata berbasis budaya. Mengapa kita perlu memilih wisata sebagai ‘jalan’ untuk melestarikan budaya yang ada?

Sebagai gambaran, saat ini, destinasi wisata semakin bertambah dan berkembang. Jika sebelumnya destinasi wisata didominasi oleh wisata umum di perkotaan dengan wisata hiburan dan wisata alam. Saat ini, destinasi wisata lebih beragam lagi, misalnya destinasi wisata di desa-desa dengan keunikan lokal dan adat budaya desa yang menjadi daya tarik.

Wisatawan Butuh Lebih Dari Sekedar  Wisata

Wisatawan, tidak lagi sekedar butuh hiburan dalam berwisata, namun lebih dari itu. Mereka membutuhkan pengalaman baru, membutuhkan suasana baru, membutuhkan sesuatu yang tidak pernah mereka rasakan selama ini. Hal ini, menjadi peluang tersendiri bagi pelaku usaha wisata untuk memberikan kebutuhan wisatawan yang kian beragam tersebut.

Misalnya ketertarikan wisatawan terhadap desa adat, adalah satu hal yang menjawab pertanyaan akan kebutuhan wisatawan saat ini, mereka membutuhkan tidak sekedar hiburan namun petualangan dan pengalaman dalam hidup.

Desa Wae Rebo sebagai contoh, menjadi destinasi wisata bagi wisatawan baik lokal dan mancanegara yang ingin merasakan tinggal di desa tradisional, ingin merasakan pengalaman menjadi komunitas masyarakat adat di desa. Berwisata di Desa Wae Rebo yang terletak di pegunungan, dengan beragam adat istiadat dan kearifan lokal masyarakat, akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan seumur hidup.

Desa Wae Rebo menjadi desa adat dan mendapat perhatian dunia sejak ditetapkan sebagai salah satu situs kekayaan dunia oleh UNESCO. Berada di ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut, Wae Rebo tidak hanya menyajikan kebudayaan lokal, tetapi juga jadi wisata alam yang sangat memukau.

Desa Wae Rebo terletak di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Tepatnya berada pada ketinggian 1.200 m di atas permukaan laut. Di Desa ini hanya terdapat 7 rumah utama yang di sebut Mbaru Niang. Nah, hal tersebut menjadi fakta menarik, dan keunikan desa ini.

Apa saja fakta unik dari Desa Wae Rebo?

1. Desa Wae Rebo Merupakan Salah Satu Desa Tertinggi di Indonesia

Desa Wae Rebo berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, hal ini menjadikan desa Wae Rebo masuk daftar desa tertinggi di Indonesia.  Letak Desa yang berada pada ketinggian menjadikan suhu udara di Desa Wae Rebo sangat dingin.

Oleh sebab itu bagi wisatawan yang akan berkunjung ke Desa Wae Rebo dan akan menginap disarankan membawa jaket dan selimut tebal.

2. Jalan menuju Desa Wae Rebo adalah jalur pendakian

Perlu persiapan khusus ketika ingin berkunjung ke Desa Wisata Wae Rebo. Selain itu juga perlu membawa peralatan mendaki, misalnya sepatu khusus mendaki, juga obat-obatan.

Hal ini karena jalan menuju Desa Wae Rebo merupakan jalur pendakian. Anda tidak perlu khawatir karena ada pemandu yang siap menemani selama perjalanan. Selain itu sepanjang perjalanan Anda akan disuguhkan dengan suasana dan pemandangan Desa Wae Rebo yang memesona.

3. Rumah Adat Mbaru Niang.

Desa Wae Rebo memiliki rumah adat Mbaru Niang yang hanya boleh berjumlah 7. Setiap rumah adat akan memiliki lima lantai, bentuk dari rumah adat ini seperti kerucut. Bentuknya yang luas mampu menampung beberapa kepala keluarga.

4. Listrik Desa Wae Rebo di Jadwal

Listrik di Desa Wae Rebo di Jadwal. Oleh sebab itu bagi Anda yang akan berkunjung sebaiknya memiliki cadangan listrik yang cukup untuk barang elektronik Anda.

5. Tidak ada minimarket dan atm.

Tidak ada minimarket dan juga ATM. Oleh sebab itu Anda perlu membawa perbekalan yang cukup, terutama untuk obat-obatan. Juga membawa uang yang cukup, ketika berkunjung ke Desa Wisata Budaya Wae Rebo.

6. Hari Spesial Desa Wae Rebo

Ada upacara atau perayaan sebagai wujud rasa syukur atas panen dan kemakmuran yang diberikan kepada desa dan warga desa. Pada hari raya Desa Wae Rebo ini, penduduk akan memakai pakaian adat lengkap dengan aksesoris.

Belajar Dari Desa Wisata Budaya Waerebo

Apa yang dapat kita pelajari dari Desa Wae Rebo? Pertama komponen desa wisata terdiri dari partisipasi masyarakat lokal, sistem norma setempat, sistem adat setempat, dan budaya setempat. Wisatawan yang berkunjung ke Wae Rebo ingin melakukan kegiatan perjalanan dengan tujuan rekreasi, pengembangan diri, atau mempelajari daya tarik budaya dari tempat tersebut.

Wisatawan yang datang ke Desa Wae Rebo, tidak cukup hanya ingin berkunjung dan menikmati pemandangan alam ‘wisata fisik’ semata. Namun benar-benar ingin merasakan kehidupan masyarakat Wae Rebo, ingin menjadi bagian dari komunitas adat dan budaya masyarakat Wae Rebo.

Ini berarti bahwa wisata berbasis budaya adalah salah satu jenis kegiatan pariwisata yang menggunakan kebudayaan sebagai objek utamanya. Ada 12 unsur kebudayaan yang dapat menarik kedatangan wisatawan, yaitu: bahasa, masyarakat, kerajinan tangan, makanan dan kebiasaan makan, musik dan kesenian, sejarah suatu tempat, cara kerja dan teknologi, agama yang dinyatakan dalam cerita atau sesuatu yang dapat disaksikan, bentuk dan karakteristik arsitektur di masing-masing daerah tujuan wisata, tata cara berpakaian penduduk setempat, sistem pendidikan, dan aktivitas pada waktu senggang.

Dari 12 unsur kebudayaan yang dapat menarik kedatangan wisata, tentu desa kita memiliki sebagian besar unsur tersebut. Maka, tinggal bagaimana mengemas unsur budaya  yang ada menjadi atraksi wisata. Menjadi satu kesatuan kegiatan pariwisata sehingga masyarakat luar tertarik dan ingin melakukan kunjungan, bahkan tinggal di desa kita untuk turut merasakan bagaimana adat istiadat dan kebudayaan yang ada di desa kita.

Desa memiliki kekuatan luar biasa dalam rangka mendirikan desa wisata, dalam hal ini wisata berbasis budaya. Seperti telah disebutkan di atas, komponen pembentuk desa wisata budaya, maka desa memiliki keseluruhan komponen tersebut.  Tinggal bagaimana desa dapat membuat perencanaan yang tepat. Melakukan analisis potensi, pendataan kearifan lokal, adat istiadat dan budaya sehingga data yang ada dapat menjadi acuan desa wisata budaya seperti apa yang akan menjadi ciri dari wisata desa budaya di desa kita.

Kesimpulan

Mendirikan Desa Wisata Berbasis Budaya memang tidak bisa instan. Ada proses panjang yang harus dilakukan bersama-sama. Dan Desa di Indonesia memiliki potensi yang luar biasa dalam hal Budaya.

Ketika kita bisa memanfaatkan Budaya Lokal yang ada dalam bentuk Desa Wisata Berbasis Budaya, maka secara langsung kita pun sedang menjaga keberlangsungan budaya kita. Mari bersama-sama optimis membangun desa kita. Semoga bermanfaat! Salam. Ari Sedesa.id

More Stories
Desa Digital Pertama di Indonesia
Ini Dia Desa Digital Pertama di Indonesia