• Call: +6285643190105
  • E-mail: sapasedesa@gmail.com
  • Login
  • Register
Education Blog
  • Desa
    • Koperasi
    • BUMDes
    • Peluang Usaha
    • Materi dan Publikasi
  • Digital Marketing
  • Nalara Kopi
  • Sedesa TV
  • Layanan
    • Pelatihan Wisata Berkelanjutan
    • Pelatihan Pasar Rakyat
No Result
View All Result
sedesa.id
No Result
View All Result
Home PUSTAKA Koperasi

Menilik Sejarah Koperasi – Dari Rochdale ke Indonesia

Ryan Ariyanto by Ryan Ariyanto
Juli 22, 2025
in Koperasi, PUSTAKA
0
sedesa.id sejarah koperasi Indonesia
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on TekegranShare on Tekegran

Sedesa.id Koperasi merupakan gerakan ekonomi yang lahir dari semangat gotong royong. Sejak awal kemunculannya, koperasi tumbuh sebagai respons terhadap tantangan ekonomi di masyarakat. Artikel perdana dari seri koperasi ini akan mengulas sejarah panjang koperasi, mulai dari cikal bakal di Eropa hingga perkembangannya di Indonesia. Dengan memahami asal-usulnya, kita dapat lebih menghayati nilai-nilai yang mendasari gerakan koperasi.

Lahirnya Koperasi di Dunia

Konsep koperasi muncul di Eropa pada masa Revolusi Industri abad ke-18, ketika kesenjangan sosial-ekonomi kian melebar. Salah satu pelopor awal adalah Robert Owen (1771–1858) dari Inggris, yang dijuluki Bapak Koperasi Dunia berkat usahanya mendirikan komunitas berbasis kerjasama di New Lanark, Skotlandia.

RelatedPosts

Paket Wisata Garut 3 Hari 2 Malam: Dari Kawah Berasap sampai Kebun Mawar dalam Satu Perjalanan

Kelola.co vs Pencatatan Manual: Mana yang Lebih Efisien untuk Mengelola Bisnis?

Kopi Arabika Pilihan Terbaik: Rekomendasi Biji Kopi Roasted Berkualitas untuk Usaha dan Harian

Namun, tonggak penting lahirnya koperasi modern ditandai oleh pendirian Rochdale Society of Equitable Pioneers pada tahun 1844 di Rochdale, Inggris. Kelompok buruh tenun ini mendirikan toko koperasi untuk menjual kebutuhan pokok dengan harga wajar dan kualitas terjamin.

Mereka pula yang merumuskan Prinsip-Prinsip Rochdale sebagai dasar operasional koperasi yang kemudian diadopsi luas di seluruh dunia. Prinsip Rochdale antara lain keanggotaan terbuka, pengelolaan demokratis, transaksi tunai, pembagian keuntungan sesuai kontribusi, dan pembatasan bunga atas modal.

Gerakan koperasi lalu menyebar ke berbagai negara. Di Jerman, Friedrich Wilhelm Raiffeisen dan Hermann Schulze-Delitzsch mengembangkan koperasi kredit pada pertengahan abad ke-19 untuk membantu petani memperoleh akses pendanaan. Di Perancis, gagasan koperasi produksi dipromosikan oleh tokoh seperti Charles Fourier. Perkembangan pesat ini mendorong pembentukan organisasi koperasi internasional.

International Co-operative Alliance (ICA) didirikan tahun 1895 sebagai wadah gerakan koperasi dunia. Memasuki abad ke-20, koperasi hadir di berbagai sektor (konsumsi, produksi, simpan pinjam, perumahan, dll) dan menjadi model alternatif dalam pembangunan ekonomi berbasis komunitas.

Sejarah Koperasi di Indonesia

Gagasan koperasi masuk ke Indonesia pada era kolonial. Upaya koperasi pertama kali dipelopori oleh R. Aria Wiriatmadja di Purwokerto pada akhir abad ke-19 (sekitar tahun 1896). Ia mendirikan semacam koperasi simpan pinjam (Hulp-en Spaarbank) untuk membantu pegawai pribumi terhindar dari rentenir. Pada masa Hindia Belanda, perkembangan koperasi tidak mulus.

Pemerintah kolonial sempat mengeluarkan peraturan yang mempersulit berdirinya koperasi (Staatsblad 431 tahun 1921), meski kemudian ada relaksasi melalui UU No. 91 Tahun 1927 yang mempermudah pendirian koperasi dengan biaya meterai murah dan boleh menggunakan bahasa daerah. Namun, kebijakan itu tak bertahan lama; tahun 1933 Belanda kembali mengetatkan aturan sehingga banyak koperasi mati suri.

Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), koperasi justru dimanfaatkan sebagai alat pengumpulan hasil bumi (disebut kumiai) untuk mendukung ekonomi perang Jepang. Akibatnya, koperasi kehilangan rohnya sebagai gerakan rakyat dan kepercayaan masyarakat menurun.

Setelah Indonesia merdeka, semangat berkoperasi bangkit kembali. 12 Juli 1947 diadakan Kongres Koperasi Pertama di Tasikmalaya, yang melahirkan organisasi Sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia (SOKRI) serta menetapkan 12 Juli sebagai Hari Koperasi Nasional.

Tokoh proklamator Dr. Mohammad Hatta sangat berperan memajukan koperasi pasca-kemerdekaan, sehingga beliau dianugerahi gelar Bapak Koperasi Indonesia pada Kongres Koperasi 17 Juli 1953 di Bandung. Pasal 33 UUD 1945 yang menegaskan asas kekeluargaan dalam perekonomian menjadi landasan konstitusional bagi koperasi sebagai sokoguru ekonomi nasional.

Era Orde Lama (1945-1965): Pemerintah berupaya memperkuat koperasi sebagai wadah ekonomi rakyat. Namun, pergolakan politik dan percobaan sistem ekonomi liberal pada 1950-an membuat koperasi sempat terombang-ambing karena dianggap kurang sesuai dengan prinsip liberalisme.

Era Orde Baru (1966-1998): Koperasi mendapat dukungan besar dan dibentuklah banyak Koperasi Unit Desa (KUD) di tiap kecamatan/desa untuk menyalurkan kredit, sarana produksi pertanian, dan pemasaran hasil bumi. KUD menjadi ujung tombak program seperti BIMAS (Bimbingan Masal) pertanian. Meski jumlah koperasi meningkat pesat, sayangnya banyak yang berdiri atas inisiatif “top-down” sehingga kurang partisipasi anggota sejati.

Pasca Reformasi (1998-sekarang): Koperasi memasuki babak baru dengan regulasi yang lebih terbuka (UU No. 25/1992 tentang Perkoperasian berlaku hingga kini). Pemerintah terus mendorong reformasi koperasi agar lebih mandiri dan berdaya saing.

Program modernisasi dan digitalisasi mulai diperkenalkan, mengingat tantangan era global dan milenial. Hingga kini, ribuan koperasi tersebar di seluruh Indonesia dengan berbagai bidang usaha – dari koperasi pertanian di desa terpencil, koperasi simpan pinjam di perkotaan, hingga koperasi pekerja dan koperasi jasa modern. Meski menghadapi pasang surut, koperasi tetap relevan sebagai gerakan ekonomi kerakyatan.

Penutup

Sejarah koperasi menunjukkan bahwa gerakan ini lahir dari kebutuhan masyarakat untuk bersatu padu demi kesejahteraan bersama. Baik di Rochdale tahun 1844 maupun di Indonesia pasca-kemerdekaan, semangat yang melandasi koperasi sama: prinsip kekeluargaan dan gotong royong untuk menghadapi kesulitan ekonomi. Pelajaran berharga dari sejarah ini adalah bahwa koperasi tumbuh subur ketika anggotanya aktif dan solid, serta didukung lingkungan yang kondusif.

Pada artikel selanjutnya, kita akan membahas prinsip-prinsip dasar yang menjadi jiwa koperasi sejak zaman Rochdale hingga koperasi masa kini. Silakan cek di: Materi Koperasi Sedesa.id terima kasih, salam Ari Sedesa.id

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X

Terkait

Previous Post

Tobrut: Dari Candaan Medsos Sampai Bahaya Pelecehan di Dunia Maya

Next Post

Poin Penting dalam PMK 49 Tahun 2025 Tentang Pendanaan Koperasi Merah Putih

Ryan Ariyanto

Ryan Ariyanto

Ryan Ariyanto, S.E., M.M. adalah praktisi dan trainer di bidang pengembangan sumber daya manusia desa, ekonomi kerakyatan, dan pariwisata berbasis komunitas. Lulusan S1 Manajemen Sumber Daya Manusia dan S2 Magister Manajemen Pariwisata, dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam pendampingan BUMDes, desa wisata, koperasi, ekonomi kreatif, serta pelatihan digital marketing dan penguatan kelembagaan desa. Aktif sebagai peneliti di Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM dan pengelola platform edukasi sedesa.id.

Related Posts

Wisata Garut
Desa Wisata

Paket Wisata Garut 3 Hari 2 Malam: Dari Kawah Berasap sampai Kebun Mawar dalam Satu Perjalanan

by Ryan Ariyanto
Agustus 7, 2026
0

Kamu pernah nggak, punya waktu libur tiga hari tapi bingung mau ke mana karena kalau atur sendiri malah repot mikirin...

Read moreDetails
businessman person space laptop
Berita Desa

Kelola.co vs Pencatatan Manual: Mana yang Lebih Efisien untuk Mengelola Bisnis?

by Ryan Ariyanto
Agustus 4, 2026
0

Digitalisasi bisnis kini sudah menjadi trend yang bisa dikatakan wajib diikuti oleh semua pelaku bisnis. Contohnya untuk urusan pencatatan stok...

Read moreDetails
Kopi Arabika Nalara
Berita Desa

Kopi Arabika Pilihan Terbaik: Rekomendasi Biji Kopi Roasted Berkualitas untuk Usaha dan Harian

by Ryan Ariyanto
Juli 30, 2026
0

Industri kopi di Indonesia terus mengalami perkembangan yang luar biasa, didorong oleh apresiasi masyarakat yang semakin tinggi terhadap kualitas biji...

Read moreDetails

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Archive

Most commented

Paket Wisata Garut 3 Hari 2 Malam: Dari Kawah Berasap sampai Kebun Mawar dalam Satu Perjalanan

Kelola.co vs Pencatatan Manual: Mana yang Lebih Efisien untuk Mengelola Bisnis?

Kopi Arabika Pilihan Terbaik: Rekomendasi Biji Kopi Roasted Berkualitas untuk Usaha dan Harian

Jual Biji Kopi Robusta Wonosobo Roasted Beans untuk Usaha dan Harian

Biji Kopi Robusta Wonosobo Roasted Beans untuk Pecinta Kopi dan Pelaku Usaha Cafee

Menjaga Tradisi Nusantara Lewat Secangkir Kopi: Perjalanan dan Filosofi di Balik Nalara Coffee

Seedbacklink
  • About us
  • Terms of service
  • Privacy Policy
Call us: 085643190105

Sedesa.id © 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Desa
    • Koperasi
    • BUMDes
    • Peluang Usaha
    • Materi dan Publikasi
  • Digital Marketing
  • Nalara Kopi
  • Sedesa TV
  • Layanan
    • Pelatihan Wisata Berkelanjutan
    • Pelatihan Pasar Rakyat

Sedesa.id © 2025

Eksplorasi konten lain dari sedesa.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca