Pagi itu, udara di Yogyakarta terasa lebih sejuk dari biasanya. Di ruang Auditorium Mubyarto, para tamu mulai berdatangan, membawa rasa penasaran dan kekaguman yang sama: ingin mengenal lebih dekat sosok Prof. Mubyarto—tokoh yang namanya lekat dengan gagasan Ekonomi Pancasila. Tidak terkecuali, rasa penasaran dan kekaguman itu merasuk dalam diri saya.
Tak ada tepuk tangan meriah atau lampu sorot berlebihan. Yang ada adalah suasana hangat dan penuh hormat. Sebab, hari itu bukan sekadar perayaan ulang tahun ke-24 PUSEKRA-UGM, tetapi juga momen penting peluncuran buku “Kehidupan dan Perjuangan Mubyarto: Pemikir-Perintis Ekonomi Pancasila”. Sebuah karya yang tidak hanya menyimpan catatan sejarah, tapi juga menghidupkan kembali api gagasan yang pernah diperjuangkan sang ekonom legendaris.
Bagi sebagian orang, Prof. Mubyarto mungkin hanya nama dalam buku teks. Namun, bagi mereka yang pernah bersentuhan dengan pemikirannya, ia adalah sosok yang membongkar cara pandang terhadap ekonomi Indonesia. Ia menolak mentah-mentah sekadar meniru resep kapitalisme atau sosialisme yang diimpor dari luar negeri. Baginya, Indonesia membutuhkan sistem ekonomi yang berakar pada budaya, nilai, dan realitas sosialnya sendiri—itulah yang ia rumuskan sebagai Ekonomi Pancasila.
Buku yang diluncurkan hari itu bukan sekadar biografi. Ia bercerita tentang masa kecil Prof. Mubyarto, perjalanan intelektualnya, perjuangan politik dan akademisnya, hingga cara ia menyalakan harapan bahwa ekonomi bisa berpihak pada rakyat kecil. Setiap bab menghadirkan potongan kisah yang membuat pembaca merasa duduk satu meja dengannya, mendengar langsung cerita tentang kenapa desa, petani, dan koperasi menjadi pusat perhatiannya.
Menghidupkan Kembali Warisan Pemikiran Mubyarto

Acara peluncuran ini bukan sekadar formalitas. Di sela-sela sambutan, terdengar kisah-kisah pribadi dari rekan asisten pribadi, murid, dan keluarga Prof. Mubyarto. Ada yang mengenangnya sebagai guru yang keras tapi adil, ada yang mengingatnya sebagai sahabat yang tak kenal lelah mengajak diskusi hingga larut malam.
Bagi Prof. Mubyarto, ekonomi bukan sekadar hitungan angka, melainkan upaya menata kehidupan berbangsa yang berpihak pada rakyat banyak. Pandangannya menegaskan bahwa pembangunan ekonomi harus diarahkan sepenuhnya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, bukan sekadar mengejar pertumbuhan angka-angka makro yang kering dari rasa keadilan.
“Lebih dari separuh hidupnya tercurah untuk menggagas sekaligus mempraktikkan Ekonomi Pancasila,” ujar Dumairy, sebagai pembicara dan penyunting buku yang juga peneliti senior Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM (PUSEKRA-UGM).
Dumairy menegaskan bahwa membicarakan Ekonomi Pancasila tidak mungkin melepaskan nama Mubyarto. Meski bukan pencetus awal istilah tersebut, Mubyarto-lah tokoh yang membawanya menjadi sebuah sistem pemikiran yang teruji, diterapkan, dan dijadikan acuan oleh banyak pihak. “Prof. Muby tidak hanya berpikir tentang konsep, tetapi sudah mempraktikkannya melalui lembaga berskala nasional yang berdampak luas. Bahkan, beberapa negara telah mempelajari penerapannya,” jelas Dumairy.
Salah satu gagasan penting Prof. Muby adalah penerapan langsung Pasal 33 UUD 1945 dalam kehidupan sehari-hari. Baginya, hasil bumi dan sumber daya alam harus dikelola negara sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, sehingga pendapatan negara ditopang oleh kekayaan alam yang dimiliki. Namun, Dumairy mengkritisi kondisi saat ini yang dinilainya berbalik arah. “Sekarang, hasil bumi bukan lagi penopang utama. Lebih dari 80 persen pendapatan APBN kita justru berasal dari pajak,” ungkapnya.
Bagi PUSEKRA-UGM, peluncuran buku ini adalah bentuk penghormatan sekaligus pengingat. Di tengah arus globalisasi dan perubahan teknologi, gagasan Prof. Mubyarto tentang ekonomi kerakyatan menjadi semacam jangkar moral: bahwa pembangunan harus memihak pada keadilan sosial, bukan hanya pertumbuhan angka-angka.
Meski Prof. Mubyarto telah berpulang bertahun-tahun lalu, ide-idenya seakan menemukan napas baru. Diskusi-diskusi yang terjadi usai peluncuran buku itu membuktikan, Ekonomi Pancasila bukanlah konsep mati. Ia justru relevan ketika kita berbicara soal ketimpangan, kedaulatan pangan, dan peran strategis desa di era modern.
Plt Kepala PUSEKRA-UGM, Rachmawan Budiarto, dalam sambutannya menyampaikan bahwa peluncuran buku ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi momentum penting untuk menghidupkan kembali idealisme yang diwariskan Prof. Mubyarto. Ia menjelaskan bahwa secara historis, PUSEKRA didirikan pada 2001 oleh Prof. Mubyarto dengan nama awal Pusat Studi Ekonomi Pancasila. “Nama PUSEKRA inipun dulunya adalah Pusat Studi Ekonomi Pancasila, dan hari ini kita memperingati ulang tahun ke-24 sebagai simbol bahwa idealisme itu tetap kita jaga,” tuturnya.
Meski berganti nama dan mengalami dinamika pada 2006, Rachmawan menegaskan bahwa hati para peneliti PUSEKRA-UGM tetap berada pada garis perjuangan ekonomi Pancasila. “Kami adalah penerus ekonomi Pancasila yang didirikan Prof. Mubyarto. Hari ini, orang-orang yang keras kepala mempertahankan idealisme itu berkumpul kembali untuk saling menyemangati. Ini momentum yang sulit kita lewatkan, apalagi di tengah kejenuhan kita terhadap berbagai persoalan bangsa, mulai dari kemiskinan yang datanya saja masih diperdebatkan,” ujarnya.
Ulang tahun ke-24 PUSEKRA-UGM tahun ini menjadi pengingat bahwa lembaga ini dibangun di atas fondasi nilai yang kuat. Buku tentang Mubyarto hanyalah salah satu cara untuk memastikan gagasannya terus hidup. Sebab, sebagaimana yang ia yakini, ekonomi bukan sekadar teori atau angka, melainkan cara mewujudkan cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dan di akhir acara, ketika halaman-halaman buku itu mulai berpindah tangan dari satu peserta ke peserta lain, terasa jelas bahwa warisan Prof. Mubyarto tidak akan berhenti di ruang pertemuan itu. Ia akan terus mengalir, dibaca, diperdebatkan, dan—yang paling penting—dihidupkan kembali dalam praktik.
Sebuah Momen yang Mengikat Masa Lalu dan Masa Kini

Bagi saya pribadi, momen ini bukan hanya sekadar perayaan lembaga tempat saya bernaung. Ini adalah pengingat perjalanan panjang yang telah saya tempuh—tepat 13 tahun sejak pertama kali bergabung dengan PUSEKRA. Saat itu, saya masih mahasiswa S1 yang mendapat rekomendasi dari dosen saya, Awan Santosa, salah satu asisten Prof. Mubyarto. Beliau menyarankan, “Kalau mau belajar tentang ekonomi rakyat yang sesungguhnya, pergilah ke PUSTEK UGM.” PUSTEK adalah akronim Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan sebelum berganti PUSEKRA
Saya mengiyakan, dan tanpa sadar, langkah itu menuntun saya pada sebuah garis perjuangan yang hingga hari ini tetap saya jalani: berada di barisan ekonomi kerakyatan, mengusung Ekonomi Pancasila sebagai jalan menuju Indonesia yang berkeadilan. Termasuk langkah kecil yang bisa saya lakukan dengan mengembangkan website Sedesa.id dan Youtube Sedesa ID, sebagai kanal pengetahuan dan media belajar bersama.
Bagi saya, ini bukan sekadar kajian akademik atau wacana di ruang seminar. Ini adalah napas yang menghidupi kerja-kerja sehari-hari, baik di lapangan maupun di meja diskusi. Dan momen ulang tahun ke-24 ini seperti mengingatkan saya: jalan panjang ini belum selesai, dan akan terus kita tempuh.
Di tengah derasnya arus neoliberalisme dan logika pasar bebas, PUSEKRA memilih untuk tetap setia menghidupkan nilai-nilai yang diperjuangkan Prof. Mubyarto. Ekonomi bukan hanya soal kompetisi tanpa batas, tapi juga gotong royong, keadilan, dan keberlanjutan.
Peluncuran buku ini pun menjadi salah satu ikhtiar menjaga agar warisan pemikiran itu tidak membeku di lembar-lembar sejarah. Buku ini merekam kisah Prof. Mubyarto bukan hanya sebagai akademisi, tetapi juga sebagai manusia yang teguh memegang prinsip, meski harus berhadapan dengan arus besar yang berlawanan.
Seperti yang disampaikan Prof. Maksum Machfoedz dalam acara tersebut, “Mubyarto tidak hanya perintis Ekonomi Pancasila, beliau menghidupinya, seluruh hidup Mubyarto itu Pancasila.” Dan di situlah tantangannya bagi generasi penerus: bukan hanya mempelajari teori, tapi menjadikannya panduan hidup.
Di akhir acara, ketika suasana mulai mereda dan para hadirin saling bersalaman, saya terdiam sejenak. 24 tahun bagi sebuah lembaga bukan waktu yang singkat. Banyak perubahan yang telah terjadi—baik di dalam negeri maupun di ranah global. Namun, PUSEKRA tetap tegak di tempatnya, menjadi rumah bagi mereka yang percaya bahwa ekonomi adalah tentang manusia, bukan sekadar angka.
Momen ini tidak hanya memanggil kembali kenangan, tapi juga meneguhkan komitmen. Bahwa di tengah dunia yang semakin tergesa, kita perlu jeda untuk mengingat kembali arah perjalanan. Bahwa ekonomi yang berkeadilan bukan utopia, melainkan tujuan yang harus terus diupayakan.
Dan seperti yang diajarkan oleh Prof. Mubyarto, yang hari ini kembali menggema di ruang pertemuan itu, “Ekonomi Pancasila adalah ekonomi yang memanusiakan manusia.”




