Desa Wisata Nglinggo Tritis, sebuah destinasi wisata yang terletak di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, telah menjadi simbol transformasi ekonomi dan sosial di wilayah perdesaan.
Destinasi ini berhasil memadukan keindahan alam dengan inisiatif pemberdayaan masyarakat lokal untuk menciptakan dampak yang signifikan pada berbagai aspek kehidupan.
Artikel ini mengulas dampak dan proses transformasi tersebut berdasarkan penelitian terbaru dari Nugraha, Prameswara, dan Sfarliana (2023).
Latar Belakang Transformasi Ekonomi
Sejak dekade 1970-an, Indonesia telah mengalami deagrarianisasi, yaitu pergeseran ekonomi dari sektor pertanian ke sektor industri dan jasa. Berdasarkan data Bank Dunia (2017), kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terus menurun, sementara sektor jasa dan industri meningkat pesat.
Kabupaten Kulon Progo, salah satu wilayah yang masih bergantung pada pertanian, mulai mengembangkan sektor pariwisata sebagai upaya diversifikasi ekonomi. Destinasi wisata Nglinggo Tritis menjadi salah satu inovasi yang berhasil memberikan alternatif penghidupan bagi masyarakat perdesaan.
Nglinggo Tritis menawarkan berbagai daya tarik wisata, termasuk kebun teh, air terjun Watu Jonggol, dan bukit Ngisis, yang menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Potensi wisata ini telah dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat lokal melalui pendekatan berbasis komunitas (community-based tourism).
Inisiatif ini memungkinkan masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pelaku utama dalam pengelolaan wisata.
Dampak Ekonomi dari Pariwisata
Pariwisata di Nglinggo Tritis telah menciptakan peluang ekonomi yang signifikan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Kulon Progo (2022), pendapatan asli daerah dari sektor pariwisata di Nglinggo Tritis mencapai lebih dari Rp 570 juta pada periode 2017-2020.
Pendapatan ini berasal dari retribusi wisata, sementara pendapatan tambahan diperoleh dari pengeluaran wisatawan untuk penginapan, makanan, transportasi lokal, dan aktivitas wisata.
Jumlah kunjungan wisatawan terus meningkat sebelum pandemi COVID-19, dengan total kunjungan mencapai 67.060 pada 2019. Meskipun terjadi penurunan akibat pandemi, pariwisata di Nglinggo Tritis kembali menunjukkan pemulihan yang stabil pada 2021. Hal ini menunjukkan resiliensi sektor pariwisata di kawasan tersebut.
Selain itu, pariwisata di Nglinggo Tritis membuka peluang pekerjaan baru. Banyak warga lokal yang sebelumnya bekerja sebagai petani atau penderes kelapa kini memiliki alternatif pekerjaan sebagai pemandu wisata, pengelola homestay, atau pedagang di sekitar destinasi wisata.
Menurut Nugraha et al. (2023), jumlah homestay di Nglinggo meningkat dari satu unit pada 2004 menjadi 22 unit pada 2021, mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang substansial.
Pariwisata dan Pengentasan Kemiskinan
Transformasi ekonomi yang didorong oleh pariwisata juga berdampak pada penurunan tingkat kemiskinan di kawasan ini. Berdasarkan data dari Pemerintah Kabupaten Kulon Progo (2020), persentase penduduk miskin di Kalurahan Pagerharjo menurun dari 18,66% pada 2014 menjadi 13,12% pada 2016.
Penurunan ini juga didukung oleh partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan pariwisata berbasis komunitas, yang memberikan redistribusi pendapatan secara lebih merata.
Dampak Sosial dan Kultural
Pengelolaan pariwisata berbasis komunitas di Nglinggo Tritis tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial. Kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) memainkan peran penting dalam memastikan manfaat pariwisata dirasakan oleh semua anggota masyarakat.
Melalui musyawarah rutin, konflik internal dapat dihindari, dan pembagian pendapatan dilakukan secara transparan.
Namun, ada tantangan yang perlu diantisipasi. Komersialisasi budaya, jika tidak dikelola dengan baik, dapat menyebabkan degradasi nilai budaya lokal. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat dan pengelola wisata untuk mempertahankan keseimbangan antara pengembangan ekonomi dan pelestarian budaya.
Keberlanjutan dan Masa Depan Pariwisata Nglinggo Tritis
Pariwisata di Nglinggo menunjukkan potensi besar sebagai model pengembangan pariwisata berkelanjutan di Indonesia. Dengan tetap mempertahankan sektor pertanian sebagai basis ekonomi, pariwisata berbasis komunitas dapat terus menjadi katalisator transformasi perdesaan.
Untuk mendukung keberlanjutan ini, pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama dalam mengembangkan infrastruktur, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, dan mempromosikan destinasi secara lebih luas.
Pengembangan paket wisata terpadu yang menggabungkan atraksi alam, budaya, dan edukasi juga dapat menjadi strategi efektif untuk menarik lebih banyak wisatawan.
Kesimpulan
Nglinggo Tritis adalah bukti nyata bahwa pariwisata dapat menjadi alat transformasi perdesaan yang efektif. Dengan pendekatan berbasis komunitas, pariwisata tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial dan melestarikan budaya lokal.
Keberhasilan ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya pengelolaan yang inklusif dan berkelanjutan dalam pengembangan pariwisata di Indonesia.
Referensi
- Badan Pusat Statistik Kabupaten Kulon Progo. (2022). Kabupaten Kulon Progo dalam Angka 2022. Pengasih: Badan Pusat Statistik Kabupaten Kulon Progo.
- Nugraha, I. C., Prameswara, B., & Sfarliana, F. (2023). Dampak Destinasi Wisata Nglinggo Tritis Kab. Kulon Progo terhadap Transformasi Perdesaan. Jurnal Pariwisata Terapan, 7(1), 1-15.
- Pemerintah Kabupaten Kulon Progo. (2020). Database Daerah Kabupaten Kulon Progo 2020. Wates: Pemerintah Kabupaten Kulon Progo.
- Ryan, C. (2003). Recreational Tourism: Demand and Impacts. Clevedon: Channel View Publications.