• Call: +6285643190105
  • E-mail: sapasedesa@gmail.com
  • Login
  • Register
Education Blog
  • Desa
    • Koperasi
    • BUMDes
    • Peluang Usaha
    • Materi dan Publikasi
  • Digital Marketing
  • Nalara Kopi
  • Sedesa TV
  • Layanan
    • Pelatihan Wisata Berkelanjutan
    • Pelatihan Pasar Rakyat
No Result
View All Result
sedesa.id
No Result
View All Result
Home PUSTAKA Koperasi

Pinjaman Koperasi Desa Merah Putih Siapa yang Untung, Siapa yang Menanggung Risiko?

Ryan Ariyanto by Ryan Ariyanto
September 23, 2025
in Koperasi, PUSTAKA
0
sedesa.id Pinjaman Koperasi Desa Merah Putih
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on TekegranShare on Tekegran

Dana KopDes Rp16 triliun resmi digelontorkan pemerintah lewat bank Himbara sebagai modal koperasi desa. Program ini diharapkan mampu menggerakkan ekonomi desa, mendukung petani, nelayan, dan UMKM. Namun, benarkah dana jumbo ini solusi atau justru bom waktu bagi ekonomi desa? Video ini membahas tuntas peluang, risiko gagal bayar, hingga tata kelola yang wajib diperhatikan agar KopDes Merah Putih tidak berakhir dengan masalah.

RelatedPosts

Download Buku Tamu Koperasi untuk Koperasi Umum dan KOPDES Merah Putih

Download Buku Notulen Rapat Pengurus Koperasi untuk Koperasi Umum dan KOPDES Merah Putih

Download Buku Notulen Rapat Anggota Koperasi untuk Koperasi dan Koperasi Desa Merah Putih

Zulkifli Hasan, Menko Bidang Pangan, bilang ada 16 ribu Koperasi Desa Merah Putih yang siap beroperasi. Dan 1.000 koperasi pertama sudah cair Rp1 triliun (Kompas, 15/9/2025).
Sumber dananya? Dari SAL APBN, uang publik yang semestinya digunakan untuk kebutuhan prioritas negara.

Jadi, ini bukan hibah. Ini likuiditas murah bagi bank Himbara agar bisa menyalurkan pinjaman ke koperasi. Harapannya, desa dapat modal, usaha rakyat bergerak, dan konsumsi naik.

Masalah-Masalah yang Mengintai

Masalah 1: Koperasi Baru & Belum Teruji
Banyak KopDes baru dibentuk. SDM, tata kelola, dan laporan keuangan masih lemah. Ajib Hamdani dari Apindo mengingatkan, koperasi model ini rawan gagal memenuhi prinsip 5C perbankan (character, capacity, capital, collateral, condition).

Masalah 2: Risiko Kredit Macet
Riset CELIOS memproyeksikan risiko gagal bayar hingga Rp85,96 triliun dalam 6 tahun, jika profil risikonya mirip UMKM (Investor.id, 15/9/2025).
Artinya, jumlah risiko bahkan lebih besar dari target awal alokasi Rp83 triliun.

Masalah 3: Tumpang Tindih Kelembagaan di Desa
Sudah ada BUMDes, kelompok tani, kelompok nelayan. Lalu hadir KopDes. Kalau tidak jelas perannya, bisa terjadi rebutan kewenangan dan konflik lokal. Bank pun makin sulit memverifikasi arus kas dan barang.

Masalah 4: Moral Hazard
Dengan narasi “dana pemerintah untuk koperasi”, ada risiko tafsir salah: dianggap hibah, padahal utang. Ditambah wacana dana desa sebagai penjamin—bisa bikin disiplin bayar longgar, bahkan membuka ruang penyalahgunaan.

Masalah 5: Transparansi Minim
Hingga kini publik belum tahu detail: koperasi mana saja yang sudah dapat pinjaman, bagaimana mekanisme penyaluran, dan bagaimana pengawasan berjalan. Tanpa transparansi, risiko salah kelola makin besar.

Solusi yang Bisa Dilakukan

Solusi 1: Pinjaman berbasis transaksi nyata.
Bank hanya membiayai arus kas yang bisa diverifikasi: kontrak pasokan LPG, pupuk, atau panen yang jelas. Cairnya dana harus sesuai arus barang, bukan sekadar proposal.

Solusi 2: Standarisasi tata kelola koperasi.
Minimal: laporan keuangan digital, audit eksternal tahunan, sertifikasi pengurus. Pemerintah bisa membuat scorecard koperasi yang menentukan plafon pinjaman.

Solusi 3: Transparansi publik & pengawasan ketat.
Publik harus bisa akses data: berapa koperasi yang sudah cair, seberapa besar pinjaman, berapa yang macet. Transparansi bukan sekadar formalitas, tapi kontrol sosial.

Solusi 4: Sinergi dengan BUMDes & lembaga desa.
Jangan jalan sendiri-sendiri. KopDes sebaiknya jadi mitra BUMDes, bukan pesaing. Ini bisa mengurangi tumpang tindih dan memperkuat arus barang-jasa di desa.

Solusi 5: Edukasi & literasi keuangan anggota.
Modal besar tanpa literasi akan habis sia-sia. Anggota harus paham bahwa pinjaman adalah kewajiban, bukan hadiah.

Menurut saya, Rp16 triliun ini memang bisa jadi momentum besar. Tapi momentum tanpa tata kelola ibarat mobil tanpa rem. Kalau target 16 ribu koperasi dipaksakan cepat, risiko gagal bayar bisa membengkak.

Program ini hanya akan berhasil kalau pemerintah berani disiplin: bukan sekadar mencairkan dana, tapi memastikan tata kelola berjalan, transparansi dibuka, dan risiko dikendalikan.

Kalau tidak, koperasi hanya jadi jargon politik baru: indah saat diluncurkan, tapi meninggalkan luka saat tagihan jatuh tempo.

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X

Terkait

Previous Post

Indoaddict Agen Perjalanan untuk Kamu Menemukan Pesona Indonesia

Next Post

Proposal Bisnis Koperasi Desa Merah Putih Unit Usaha Outlet Gerai Sembako

Ryan Ariyanto

Ryan Ariyanto

Ryan Ariyanto, S.E., M.M. adalah praktisi dan trainer di bidang pengembangan sumber daya manusia desa, ekonomi kerakyatan, dan pariwisata berbasis komunitas. Lulusan S1 Manajemen Sumber Daya Manusia dan S2 Magister Manajemen Pariwisata, dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam pendampingan BUMDes, desa wisata, koperasi, ekonomi kreatif, serta pelatihan digital marketing dan penguatan kelembagaan desa. Aktif sebagai peneliti di Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM dan pengelola platform edukasi sedesa.id.

Related Posts

Sedesa.id Download Buku Tamu Koperasi untuk Koperasi Umum dan KOPDES Merah Putih
Koperasi

Download Buku Tamu Koperasi untuk Koperasi Umum dan KOPDES Merah Putih

by Ryan Ariyanto
April 2, 2026
0

Sedesa.id Dalam pengelolaan koperasi yang tertib dan profesional, setiap kunjungan, agenda pertemuan, maupun tamu yang datang ke kantor koperasi sebaiknya...

Read moreDetails
sedesa.id Download Buku Notulen Rapat Pengurus Koperasi untuk Koperasi Umum dan KOPDES Merah Putih
Koperasi

Download Buku Notulen Rapat Pengurus Koperasi untuk Koperasi Umum dan KOPDES Merah Putih

by Ryan Ariyanto
April 2, 2026
0

Sedesa.id Dalam pengelolaan koperasi yang tertib dan profesional, setiap keputusan penting tidak cukup hanya dibahas secara lisan. Pengurus koperasi perlu...

Read moreDetails
Sedesa.id BBuku Notulen Rapat Anggota Koperasi dan Koperasi Desa Merah Putih
Koperasi

Download Buku Notulen Rapat Anggota Koperasi untuk Koperasi dan Koperasi Desa Merah Putih

by Ryan Ariyanto
April 2, 2026
0

Sedesa.id Dalam pengelolaan koperasi yang sehat, tertib, dan profesional, setiap keputusan penting tidak boleh hanya diingat secara lisan. Keputusan tersebut...

Read moreDetails

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Archive

Most commented

Download Buku Tamu Koperasi untuk Koperasi Umum dan KOPDES Merah Putih

Download Buku Notulen Rapat Pengurus Koperasi untuk Koperasi Umum dan KOPDES Merah Putih

Download Buku Notulen Rapat Anggota Koperasi untuk Koperasi dan Koperasi Desa Merah Putih

Rekrutmen SPPI–KDKMP 2026: Syarat dan Cara Daftar Serta Hal yang Perlu Dipahami

Download Buku Daftar Pengawas Koperasi: Pengertian, Fungsi, Format, dan Administrasi Untuk Koperasi Desa Merah Putih

Download Buku Daftar Pengurus Koperasi: Pengertian, Fungsi, Format, dan Format Untuk Koperasi Desa Merah Putih

Seedbacklink
  • About us
  • Terms of service
  • Privacy Policy
Call us: 085643190105

Sedesa.id © 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Desa
    • Koperasi
    • BUMDes
    • Peluang Usaha
    • Materi dan Publikasi
  • Digital Marketing
  • Nalara Kopi
  • Sedesa TV
  • Layanan
    • Pelatihan Wisata Berkelanjutan
    • Pelatihan Pasar Rakyat

Sedesa.id © 2025

Eksplorasi konten lain dari sedesa.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca