Sedesa.id Puruk Cahu, 15 Oktober 2025 — Kabupaten Murung Raya terus berupaya mengembangkan potensi lokalnya melalui sektor ekonomi kreatif. Upaya tersebut diwujudkan dengan penyusunan Rencana Induk Pengembangan Ekonomi Kreatif (RINDEKRAF) yang digarap bersama Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada (PUSEKRA UGM). Kolaborasi ini dipimpin oleh Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (BAPPERIDA) Murung Raya, ditandai dengan kegiatan Pemaparan Laporan Pendahuluan dan Focus Group Discussion di Aula Cahai Ondui Tingang, Gedung B Kantor Bupati Murung Raya, Selasa (14/10).
Tim peneliti PUSEKRA UGM hadir langsung dari Yogyakarta. Rombongan dipimpin oleh Dr. Dumairy, bersama Ariyanto dan Arif Setyo Widodo. Dalam kesempatan itu, mereka menyampaikan kerangka awal pengembangan ekonomi kreatif yang menekankan pentingnya pemetaan potensi lokal, penguatan daya saing UMKM, serta integrasi pariwisata berbasis kearifan lokal.
Asisten III Sekretariat Daerah Murung Raya, Andri Raya, menegaskan bahwa kerja sama dengan UGM merupakan langkah penting untuk memastikan kebijakan daerah berbasis kajian akademik. “Murung Raya memiliki potensi besar dalam bidang ekonomi kreatif. Dengan pendampingan dari PUSEKRA UGM, kami berharap perencanaan ini menjadi peta jalan nyata yang membuka lapangan kerja, menguatkan UMKM, dan menumbuhkan pariwisata berbasis budaya lokal,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Kepala Bapperida Murung Raya, Reyzal Samat, yang menekankan pentingnya kehadiran akademisi dalam penyusunan dokumen perencanaan. “Kami tidak ingin perencanaan hanya berhenti di atas kertas. Dengan dukungan PUSEKRA UGM, hasil akhirnya diharapkan bisa langsung diterapkan dalam program pembangunan daerah,” jelasnya.
Dalam paparannya, Dr. Dumairy menjelaskan bahwa PUSEKRA UGM akan mendampingi Murung Raya melalui serangkaian langkah. Pendampingan ini dimulai dari pemetaan subsektor ekonomi kreatif berbasis budaya, sumber daya alam, dan inovasi masyarakat. Selanjutnya dilakukan analisis daya saing dan strategi pasar agar produk kreatif Murung Raya mampu berkembang hingga skala nasional. PUSEKRA UGM juga menyiapkan perumusan kebijakan yang selaras dengan RPJMD Murung Raya 2025–2029 dan mendukung misi pembangunan nasional. Tidak hanya itu, pendampingan berkelanjutan akan dilakukan melalui workshop, FGD, dan pelatihan bagi pelaku usaha serta perangkat daerah.
“Ekonomi kreatif bukan hanya tren, melainkan ruang bagi masyarakat untuk berinovasi sekaligus menegaskan identitas budaya. Murung Raya punya modal sosial yang kuat, dan kami ingin membantu mengembangkannya agar bisa memberi manfaat ekonomi nyata,” jelas Dr. Dumairy.
Melalui penyusunan RINDEKRAF, pemerintah daerah berharap sektor ekonomi kreatif mampu menjadi motor pembangunan baru yang inklusif dan berkelanjutan. Ke depan, rangkaian kegiatan akan dilanjutkan dengan survei, diskusi kelompok, hingga lokakarya di tingkat lokal agar dokumen yang disusun benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Menutup kegiatan, Dr. Dumairy menegaskan bahwa PUSEKRA UGM tidak hanya fokus mendampingi Murung Raya, tetapi juga terbuka untuk bekerja sama dengan kabupaten dan daerah lain di Indonesia yang ingin mengembangkan potensi ekonomi kreatifnya. “Kami percaya, dengan sinergi antara pemerintah daerah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat, ekonomi kreatif bisa menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan Indonesia,” pungkasnya.




