Kawasan Transmigrasi Muting di Merauke, Papua Selatan, menyimpan kekayaan alam yang luar biasa. Namun, besarnya potensi ini belum berbanding lurus dengan kesejahteraan ekonomi warganya akibat rantai pasok yang terputus. Menjawab tantangan tersebut, praktisi pemberdayaan masyarakat dari sedesa.id yang juga Peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (PUSEKRA) UGM, Ariyanto, S.E., M.M., turun langsung merumuskan model kelembagaan ekonomi kawasan terpadu pada 6–8 Oktober 2026.
Langkah strategis ini merupakan wujud kolaborasi erat bersama Tim Ekspedisi Patriot (TEP) UGM Tim 16 lewat program KASUARI (Konektivitas Usaha Ekonomi, Adat, Jender, dan Inklusivitas). Fokus utamanya sangat membumi: mengajak warga di Distrik Ulilin, Muting, dan Elikobel memetakan aset produktif mereka, guna membangun sistem ekonomi kolektif agar masyarakat tidak lagi terjebak menjual hasil bumi mentah dengan harga murah.
Sebagai akademisi yang juga terjun langsung menjadi pelaku usaha pengolahan kopi, Ryan—sapaan akrab Ariyanto—sangat memahami realita lapangan yang dihadapi warga Muting. Di kawasan ini, kopi menjadi salah satu komoditas andalan bersama dengan perikanan dan singkong. Pengalamannya mengelola bisnis roastery dari hulu ke hilir memberinya perspektif tajam tentang betapa rapuhnya posisi tawar petani jika tidak berserikat.
“Masalah utama di tingkat akar rumput biasanya serupa: warga berjuang sendiri-sendiri, ongkos logistik sangat mahal, dan akses ke teknologi pengolahan minim. Kalau kita mau daya tawar masyarakat naik, solusinya cuma satu, kita harus membangun kelembagaan bersama yang kuat dan berakar dari karakter lokal,” tegas Ryan di hadapan kelompok-kelompok usaha masyarakat.
Proses pemetaan partisipatif yang ia pandu berhasil memotret kekuatan spesifik dari masing-masing wilayah. Distrik Ulilin terbukti kuat di sektor pariwisata dan pertanian; Muting mengandalkan perikanan dan kopi; sementara Elikobel menyimpan aset besar berupa komoditas sagu, sarang semut, dan kelapa. Sayangnya, kekayaan ini kerap terbentur oleh minimnya infrastruktur jalan, sengkarut sengketa lahan (tenurial), hingga ancaman degradasi lingkungan akibat ekspansi sawit.

Merespons rentetan persoalan lintas sektoral tersebut, draf model kelembagaan ekonomi yang disusun tim langsung diuji publik bersama warga. Bersama ketua TEP UGM Tim 16, Rindu S. M. Firdaus, rancangan kelembagaan ini didorong agar tidak sekadar berakhir di atas kertas, melainkan menjadi rekomendasi kebijakan strategis yang konkret bagi Kementerian Transmigrasi.
Lebih dari sekadar rumusan teori, pendampingan dari sedesa.id dan TEP UGM ini langsung dieksekusi menjadi aksi nyata. Tim mahasiswa yang beranggotakan Danartya Dwijatmoko, Muhammad Alif Al Hakim, Muhammad Aziz Hutama, Nadya Annisa Arianti, dan Nur Rani membekali warga dengan katalog produk lokal sebagai amunisi unjuk gigi di Festival Kali Maro. Untuk memastikan daya jangkau yang lebih panjang, etalase digital kawasan Muting juga mulai dibangun terintegrasi melalui www.xpedia.id.
Harapannya jelas: produk unggulan dari batas timur Nusantara ini tak lagi hanya jago kandang, tetapi memiliki pijakan kelembagaan yang kokoh untuk menembus pasar yang jauh lebih luas.



